9 Penyebab Penyakit Kolera – Diare Parah yang Mengancam jiwa

By | May 1, 2021

9 Penyebab Penyakit Kolera

Kolera merupakan sejenis penyakit diare akut yang yang menyerang usus akibat serangan infeksi bakteri toksigenik bernama Vibrio cholerae serogroup 01 atau 0139. Kondisi mencret ini memang terlihat seperti gejala sakit perut biasa, tetapi sebenarnya sangatlah mematikan.

Diperkirakan sekitar 2,9 juta kasus muncul di seluruh dunia, yang mana 95 ribu para penderitanya meninggal setiap tahunnya.

Penyakit ini bisa menyebar melalui feses atau kotoran, atau karena mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh kotoran yang sudah mengandung bakteri. Ini tentunya seringkali terjadi di beberapa negara berkembang atau miskin sebagai akibat pembuangan limbah yang kurang tepat.

Untungnya, kolera bisa diobati asalkan mendapatkan pengobatan dan perawatan dengan segera. Pasalnya, penyakit ini bisa menyebabkan dehidrasi dengan begitu cepat. Ketahui juga penyebab dan faktor resiko munculnya penyakit kolera, agar kamu bisa mengurangi resikonya secara drastis.

Adapun penyebab kolera sudah kami paparkan di bawah ini secara lengkap.

  1. Paparan Air yang Terkontaminasi

Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa penyebab terbanyak seseorang mengidap penyakit kolera adalah karena mengonsumsi makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. Untuk alasan inilah, pastikan kamu tidak minum atau mencuci makanan secara sembarangan, apalagi di air sungai yang kotor – seperti yang ada di kota-kota besar.

Menurut seorang ahli epidemiologi medis dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Atlanta bernama Dr. Eric Mintz, DC, mengatakan bahwa meskipun memanaskan air bisa membunuh bakteri Vibria cholerae, akan tetapi masih ada kemungkinan adanya patogen dan zat kimia lain yang resisten terhadap suhu panas, jadi akan lebih baik untuk tetap hindari mengonsumsi air yang kotor.

Jadi tak heran jika wabah kolera dalam skala besar seringkali terjadi di area yang padat penduduk tanpa adanya sanitasi yang memadai.

  1. Seafood

Mengonsumsi makanan laut memang bisa memberikan cita rasa tersendiri, akan tetapi tetap hindari jenis yang tak diolah secara benar. Faktanya, sebuah penelitian menemukan bahwa dengan mengonsumsi penyu cangkang lunak, zooplankton, ikan, unggas air, kepiting, lobster, dan udang, maka bisa menyebarkan kolera pada manusia.

Bahkan disebutkan pula bahwa kolera sangatlah terkait erat dengan makanan laut, terutama kerang moluska dan krustasea. Makanan laut ini mungkin saja sudah terkontaminasi secara alami di lingkungan mereka hidup, atau pada saat diolah dan dihidangkan.

  1. Buah dan Sayuran Mentah

Buah dan sayuran mentah yang tak dikupas juga bisa menjadi sumber infeksi kolera di daerah yang rawan terkena kolera, seperti misalnya di India.

Di beberapa negara berkembang (termasuk Indonesia) juga seringkali pupuk kandang tanpa kompos atau air irigasi yang mengandung limbah mentah digunakan untuk mengairi sayuran dan tanaman. Kondisi ini tentunya bisa menjadi penyebab utama penyebaran bakteri Vibrio cholerae lebih jauh lagi.

Intinya, pastikan untuk tidak mengonsumsi makanan yang diduga telah tercemari dengan air atau kotoran (seperti pupuk) yang terlihat tak higienis dan menjadi sumber penyakit.

  1. Biji-Bijian

Bahkan nasi yang menjadi makanan kita sehari-hari pun bisa membawa bakteri kolera yang berbahaya. Terutama di daerah penyakit kolera tersebar luas, biji-bijian seperti beras seringkali terkontaminasi sekalipun telah dimasak dan disimpan dalam suhu kamar selama beberapa jam.

Jadi untuk mencegahnya, pastikan nasi tidak disimpan lebih dari 1 jam. Atau jika bisa, selalu tempatkan di dalam penghangat nasi yang bisa kamu beli di toko-toko terdekat. Alat ini memang sudah lazim digunakan oleh masyarakat kita.

  1. Kondisi Sanitasi yang Buruk

Perhatikan lingkungan sekitar kita, apakah kondisi sanitasinya benar-benar jauh dari kata layak dan higienis? Faktanya, kondisi sanitasi yang buruk menjadi salah satu cara bakteri Vibrio menyebar dengan begitu cepat dan agresif.

Kebiasaan membuang sampah sembarangan, BAB tidak di tempat semestinya, pola kebersihan yang buruk, akses sanitasi yang terbatas, dan pasokan air yang tidak memadai bisa berkontribusi terhadap wabah penyakit yang satu ini.

Selain peran pemerintah dalam melawan penyakit menular, kita juga tentunya harus mulai membiasakan diri dari hal yang terkecil terlebih dahulu, yaitu dimulai dengan senantiasa membuang sampah pada tempatnya.

Selain kolera, sanitasi yang buruk juga telah terkait dengan jenis penyakit berbahaya lainnya seperti diare, disentri, hepatitis A, tifus, dan polio.

  1. Rendahnya Tingkat Asam Lambung

Bakteri kolera tentunya tidak akan bertahan hidup di lingkungan yang asam. Dengan begitu, asam lambung kita seringkali membunuh Vibrio saat masuk ke perut bahkan sebelum mereka mulai menyerang dan menimbulkan gejala.

Namun bagi kamu yang memiliki tingkat asam lambung rendah – seperti anak-anak, orang tua, dan akibat penggunaan obat-obatan tertentu (antasida, penghambat H-2, dan penghambat pompa proton), maka tubuh kita pun akan kehilangan perlindungan alaminya dari serangan bakteri mematikan yang satu ini.

Sebaliknya, jika kita memiliki asam lambung yang normal, maka asam klorida tersebut akan membunuh bakteri dan melindungi kita dari berbagai macam jenis mikroba berbahaya yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman.

Perut kita juga bisa melindungi dirinya sendiri agar tidak dicerna oleh enzim yang ia produksi, atau dibakar oleh asam klorida korosif dengan cara mengeluarkan lendir yang lengket dan menetralkan cairan yang menempel di dinding perut.

  1. Tinggal Bersama Dengan Penderita

Jika saat ini kamu tengah menderita kolera, maka anggota keluarga atau orang yang tinggal seatap dengan kamu pun lebih rentan tertular.

Jadi pastikan untuk segera mendapatkan perawatan yang tepat, karena kolera bisa menjadi fatal hanya dalam beberapa jam setelah gejala diare muncul.

Kolera yang tak diobati bisa menyebabkan kehilangan cairan antara 10 hingga 20 hari sehari, sehingga kamu pun harus mendapatkan asupan cairan dan elektrolit secara berkelanjutan. Dehidrasi ini tentunya sangatlah mengancam jiwa dan beresiko menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh.

  1. Golongan Darah O

Percaya atau tidak, ternyata seseorang yang memiliki golongan darah O lebih rentan terkena serangan penyakit kolera. Para ilmuwan sendiri bahkan telah menemukan bahwa toksin kolera dapat mengaktifkan molekul pensinyalan kunci dalam sel usus secara agresif. Tingginya kadar molekul pensinyalan tersebut tentunya dapat menyebabkan ekskresi elektrolit dan air (atau diare).

Seorang profesor kedokteran dan mikrobiologi molekuler bernama James Fleckenstein, MD, adalah salah satu ilmuwan yang meneliti akan fakta unik yang satu ini.

“Kami telah menemukan bahwa golongan darah ternyata mempengaruhi seberapa kuat toksin kolera mengaktifkan sel-sel usus, yang kemudian memicu gejala diare,” jelasnya.

  1. Kerang Mentah atau Setengah Matang

Kerang mentah memang menjadi salah satu makanan berkualitas tinggi di negara-negara barat sana. Akan tetapi, camilan ini bisa menjadi salah satu ancaman terbesar dari penyebaran penyakit kolera. Kerang mentah bahkan diduga menjadi sumber utama infeksi Vibrio pada manusia diantara makanan-makanan lainnya.

Selain kolera, terdapat pula jenis penyakit yang bisa muncul akibat mengonsumsi kerang mentah, diantaranya keracunan kerang amnesik (asam domoat), keracunan kerang diare (asam okadaat), dan keracunan kerang paralitik (red tide).

Leave a Reply

Your email address will not be published.