8 Penyebab Penyait Autoimun. Imunitas yang Menyerang Tubuh Sendiri

by -78 views
8 Penyebab Penyait Autoimun. Imunitas yang Menyerang Tubuh Sendiri
8 Penyebab Penyait Autoimun. Imunitas yang Menyerang Tubuh Sendiri

8 Penyebab Penyait Autoimun. Imunitas yang Menyerang Tubuh Sendiri

Sistem kekebalan sangatlah memainkan peran kunci dalam menjaga kesehatan tubuh sepanjang usia anda. Mereka bertanggung jawab dalam memerangi patogen berbahaya termasuk virus, bakteri, dan jamur. Tetapi ada kalanya sistem imun anda malah menyerang sel-sel sehat dalam tubuh, yang kemudian dikenal dengan istilah penyakit autoimun.
Banyak sekali jenis penyakit autoimun yang sudah mendera penduduk dunia. Beberapa yang paling lazim diantaranya rheumatoid arthritis, lupus, celiac, sjogren, multiple sclerosis, diabetes tipe-1, alopecia areata, vaskulitis, dan lain sebagainya.
Sementara para peneliti masih menggali jawaban tentang apa yang menyebabkan di lebih dari 90 jenis penyakit autoimun yang sudah teridentifikasi, tetapi ada beberapa faktor resiko dan kebiasaan yang bisa mendasarinya.

8 Penyebab Penyait Autoimun

Adapun beberapa penyebab anda terkena penyakit autoimun sudah kami jelaskan di bawah ini secara lengkap.

1. Wanita

Tanpa mendeskriminasikan jenis kelamin tertentu, sebuah penelitian menyebutkan bahwa sebanyak 78% penderita penyakit autoimun adalah wanita. Lebih parah lagi, sebanyak 95% pasien lupus dan sindrom Sjogren diderita oleh mereka.
Menurut seorang ahli reumatologi integratif dan pendiri Institute for Specialized Medicine bernama Alexander Shikhman, MD, dari San Diego menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena wanita memiliki jenis sel-sel yang lebih tinggi daripada kaum pria, seperti toll-like receptors, sel penyaji antigen, sel dendritik, dan sel B.
Secara sederhananya, wanita cenderung memiliki peningkatan reaktivitas kekebalan dibandingkan dengan pria, sehingga mereka kurang rentan terkena infeksi virus. Tetapi di saat yang bersamaan, kelebihan ini bisa membuat wanita lebih beresiko terkena penyakit autoimun akibat respon imun mereka yang terlalu aktif.

2. Faktor Genetik

Beberapa gangguan tertentu – seperti lupus dan multiple sclerosis (MS) – cenderung diturunkan secara turun-temurun. Jadi, jika anda memiliki keluarga atau kerabat yang pernah mengalami penyakit autoimun yang satu ini, maka secara otomatis anda pun memiliki resiko lebih tinggi terkena suatu hari nanti.
Faktanya, terdapat banyak sekali gen yang terlibat secara kolektif untuk meningkatkan kerentanan anda terkena gangguan abnormal yang satu ini. Misalnya, sejenis gen yang disebut sebagai TYK2 setidaknya telah terkait dengan 20 jenis penyakit autoimun yang berbeda, termasuk MS, diabetes tipe-1, rheumatoid arthritis, lupus, dan psoriasis.

3. Menderita Penyakit Autoimun

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa penyakit autoimun memiliki banyak sekali jenis. Parahnya, sekali anda terkena satu penyakit – apapun jenisnya, maka bisa mengundang jenis yang lainnya.
Jika anda memiliki 3 penyakit autoimun atau lebih di saat yang bersamaan, maka kondisi ini akan disebut sebagai Multiple Autoimmune Syndrome (MAS), yang mana sudah terjadi pada sekitar 25% dari para penderitanya. 
Untuk alasan inilah, anda harus segera mengobati dan mengelola gejala penyakit autoimun yang tengah anda derita, demi terhindar dari MAS yang seringkali mengurangi tingkat kualitas dan keberlangsungan hidup para penderitanya.

4. Kegemukan dan Obesitas

Memiliki berat badan yang gemuk atau bahkan obesitas tentunya dapat mempengaruhi fungsi sistem kekebalan tubuh anda yang normal, sehingga seringkali berpotensi menjadi penyakit autoimun.
Pasalnya, lemak atau jaringan adiposa sangatlah terlibat dalam banyak fungsi fisiologis, termasuk metabolisme dan respon imunitas tubuh. Namun ketika jaringan adiposa tersebut menumpuk dan menjadi tidak berfungsi, maka bisa menyebabkan peningkatan atau disregulasi sekresi senyawa yang disebut sebagai adipokin.
Zat bioktif tersebutlah yang kemudian menjadi pro-inflamasi dan secara signifikan mengubah fungsi sistem kekebalan tubuh anda secara nyata.
Untungnya, faktor resiko yang keempat ini lebih mudah anda atur dibandingkan dengan 3 penyebab di atas. Tinggal kemauan keras untuk mengurangi berat badan dan asupan kalori, maka bisa mencegah masalah autoimun seperti arthritis, MS, hingga diabetes tipe-1.
Jika anda ingin mengurangi berat badan dan menurunkan resiko terkena penyakit autoimun, maka fokuslah terhadap pola makan yang sehat, rajin berolahraga, dan berpuasa selama 12-16 jam beberapa kali dalam seminggu. Lakukan kebiasaan ini dalam jangka panjang jika anda sudah menderita satu atau lebih dari penyakit autoimun yang melemahkan.

5. Kebiasaan Merokok

Merokok bukan hanya berakibat buruk bagi paru-paru dan saluran pernafasan anda, tetapi juga hampir segala aspek kesehatan dalam tubuh, termasuk jantung, ginjal, hati, hingga sistem kekebalan tubuh.
Bahkan kebiasaan merokok tersebut sudah terkait erat dengan berkembangnya MAS, termasuk rheumatoid arthritis, lupus eritematosus sistemik, MS, hipertiroidisme Graves, dan sirosis bilier primer.
Para perokok pasif juga bisa terkena imbasnya. Sebuah penelitian di Prancis memperlihatkan bahwa wanita dan anak-anak yang terkena paparan racun dan asap rokok lingkungan cenderung lebih mungkin mengembangkan rheumatoid arthritis daripada mereka yang tidak terkena sama sekali. 

6. Terkena Paparan Racun

Efeknya hampir sama seperti asap rokok di atas. Bedanya, seringkali paparan racun tidak sengaja anda dapatkan akibat kecelakaan atau situasi tertentu yang tak bisa dihindari.
Misalnya, paparan racun seperti polutan udara, asap kendaraan bermotor, silika kristal, radiasi ultraviolet, atau pelarut organik sudah sangat terkait erat dengan jenis penyakit autoimun bernama Multiple Scleroris.
Berhati-hati juga terhadap zat kimia BPA yang selalu hadir di mangkok plastik rumah anda. banyak penelitian yang telah menunjukkan bahwa bahan kimia beracun ini bisa mengganggu sistem kekebalan pada tingkat sel, sehingga mengundang atau memperparah autoimun yang sudah ada.
Untuk mengakalinya, hindari menuangkan kuah atau sesuatu yang panas ke dalam mangkok plastik, karena zat BPA tersebut bisa tercampur ke dalam makanan dan masuk ke dalam tubuh tanpa anda sadari sama sekali.

7. Mengonsumsi Obat

Menderita penyakit tertentu seringkali mengharuskan kita mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan oleh para dokter. Sekalipun tujuannya baik, tetapi tak jarang bisa mendatangkan masalah baru berupa efek samping.
Untuk beberapa jenis obat-obatan seperti penurun tekanan darah, statin, dan antibiotik, seringkali dapat memicu kondisi autoimun yang diinduksi oleh lupus, miopati, atau hepatitis autoimun.

8. Terkena Infeksi

Penyebab munculnya penyait autoimun yang terakhir ini bisa karena adanya infeksi patogen dari luar. Infeksi ini bisa menyelinap ke dalam tubuh semenjak anda masih kecil.
Sebut saja kehadiran Virus Epstein Barr (EBV) yang cenderung muncul sebagai penyakit ringan di masa kanak-kanak dan menjadi tidak aktif, yang kemudian menyebabkan munculnya lupus eritematosus sistemik, rheumatoid arthritis, dan bahkan sindrom Sjrogren di kemudian hari. 
Jenis mikroorganisme menular lainnya bisa berupa bakteri Streptococcus Grup A, yang seringkali menjadi pemicu anda terkena penyakit autoimun terkait jantung, sendi, dan otak.
Patogen penyerang tersebut akan berinteraksi dengan genetika di tubuh melalui berbagai macam mekanisme. Secara singkatnya, mereka bisa saja mengaktifkan gen tertentu yang mempengaruhi kemampuan imunitas untuk mampu membedakan musuh dan sel tubuh yang sehat. Alhasil, penyakit autoimun pun tidak bisa anda hindari.
Segera periksakan diri ke dokter terdekat. Biasanya anda akan diberikan beberapa jenis obat-obatan untuk melawan infeksi atau sekedar mengurangi gejala yang muncul. Beberapa yang sering digunakan adalah obat antiinflamasi non steroid (NSAID), glukokortikoid, dan obat antirematik modifikasi penyakit (DMARD). 
NSAID dan glukokortikoid sangatlah efektif dalam meredakan perasaan nyeri sekaligus menghambat peradangan. Sementara DMARD memiliki kapasitas untuk mengurangi kerusakan jaringan dan organ yang disebabkan oleh respon inflamasi yang tengah terjadi di tubuh anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published.