Tularemia (Demam Kelinci, Demam Lalat Rusa)

by -7 views

Tularemia (Demam Kelinci, Demam Lalat Rusa)

Tularemia (Demam Kelinci, Demam Lalat Rusa)
Tularemia (Demam Kelinci, Demam Lalat Rusa)
Sumber gambar : http://m2002.tripod.com

Definisi

Tularemia (Demam Kelinci, Demam Lalat Rusa) adalah suatu infeksi bakteri yang disebabkan oleh Francisella tularensis, yang didapat dari hewan liar, biasanya kelinci.

Jenis-jenis tularemia:

  1. Tularemia ulseroglanduler. Tularemia jenis ini paling sering terjadi. Pada tempat masuknya bakteri di kulit terbentuk ulkus (luka terbuka, borok). Bakteri kemudian masuk ke kelenjar getah bening di dekatnya dan menyebabkan terjadinya pembengkakan yang terasa nyeri. Adakalanya, kulit di sekitar kelenjar getah bening pecah dan mengeluarkan nanah.
  2. Tularemia okuloglanduler menyerang mata dan menyebabkan kemerahan serta pembengkakan pada mata, disertai dengan pembengkakan kelenjar getah bening di dekatnya. Tularemia jenis ini mungkin terjadi akibat menyentuh mata dengan jari tangan yang terkontaminasi atau cipratan air yang terinfeksi ke mata.
  3. Tularemia glanduler, terjadi pembengkakan kelenjar getah bening tanpa pembentukan ulkus, diduga sumbernya adalah bakteri yang tertelan.
  4. Tularemia tifoidal menyebabkan demam tinggi, menggigil, dan nyeri perut. Tularemia jenis ini terjadi jika infeksi masuk ke dalam aliran darah. 
  5. Tularemia orofaringeal. Penderita mengalami sakit tenggorokan dan terjadi pembengkakan pada kelenjar getah bening di leher. Beberapa penderita juga mengalami nyeri perut, mual, muntah, dan diare. Tularemia jenis ini biasanya terjadi akibat memakan daging terkontaminasi yang tidak matang.
  6. Tularemia pneumonik mengenai paru-paru. Penderita dapat mengalami batuk kering, sesak nafas, dan nyeri dada. Tularemia jenis ini terjadi akibat menghirup (inhalasi) bakteri atau melalui penyebaran bakteri melalui aliran darah ke paru-paru. Tularemia jenis ini terjadi pada 10-15% penderita tularemia ulseroglandular dan pada 50% penderita tularemia tifoidal.

PENYEBAB

Penyebab tularemia adalah bakteri Francisella tularensis.

Bakteri ini normalnya terdapat pada hewan, terutama binatang pengerat, kelinci, dan terwelu. Manusia dapat terinfeksi akibat:

  • Memegang bangkai hewan yang terinfeksi (misalnya pada pemburu, tukang jagal, petani, pengrajin bulu binatang, dan pekerja laboratorium yang menangani hewan atau produk hewan)
  • Penularan melalui gigitan kutu atau serangga lain yang terinfeksi 
  • Makan makanan atau minum air yang terkontaminasi, misalnya daging kelinci yang tidak matang
  • Menyentuh hewan yang terinfeksi karena bakteri bisa menembus kulit yang utuh
  • Menghirup udara yang mengandung bakteri Francisella tularensis
  • Tularemia tidak menular dari orang ke orang.

    Gejala

    Berbagai jenis tularemia dapat mengenai bagian-bagian tubuh yang berbeda sehingga menyebabkan gejala-gejala yang juga berbeda. Gejala biasanya muncul 3-5 hari setelah terpapar bakteri, tetapi dapat juga sampai 2 minggu setelahnya.

    Gejala awal yang muncul berupa demam tinggi hingga mencapai 40oCelsius, menggigil, berkeringat, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, dan kelelahan yang luar biasa. Muncul peradangan pada tempat masuknya infeksi (biasanya di jari tangan, tangan, mata atau langit-langit mulut), kecuali pada tularemia jenis glanduler dan tifoidal. Terkadang terbentuk abses yang dapat pecah dan membentuk ulkus. Kelenjar getah bening di dekat ulkus membesar dan bisa bernanah.

    Sumber : http://www.antropozoonosi.it

    Di sepanjang perjalanan penyakit bisa muncul ruam kulit. Pneumonia tularemik bisa hanya menimbulkan gejala yang ringan, seperti batuk kering dan rasa terbakar di dada.

    Diagnosa

    Diagnosis didasarkan dari gejala-gejala yang muncul : adanya demam yang tiba-tiba, ulkus khas, didukung oleh riwayat kontak dengan mamalia liar (terutama kelinci) atau tergigit kutu.

    Untuk memastikan diagnosa, dilakukan pembiakan (kultur) bakteri dari contoh darah, cairan dari kelenjar getah bening, nanah dari ulkus kulit, atau dahak. Pemeriksaan darah juga dapat digunakan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri.

    Pengobatan

    Penderita tularemia tidak perlu diisolasi. Tularemia diobati dengan pemberian antibiotik melalui suntikan atau per-oral selama 1-2 minggu. Abses yang besar perlu dibersihkan dan dikeluarkan nanahnya melalui pembedahan. Untuk meringankan gejala pada mata bisa digunakan kaca mata gelap atau kompres hangat. Untuk sakit kepala hebat dapat diberikan obat pereda nyeri, seperti oxycodone.

    PROGNOSIS

    Jika diobati, sebagian besar penderita bisa diselamatkan. Sekitar 6% penderita yang tidak diobati akhirnya meninggal. Kematian biasanya terjadi akibat infeksi yang tidak terkontrol, pneumonia, meningitis (infeksi selaput otak) atau peritonitis (infeksi selaput rongga perut).

    Jarang terjadi kekambuhan, tetapi jika pengobatannya tidak adekuat, maka bisa terjadi kekambuhan. Penderita tularemia nantinya akan membentuk kekebalan terhadap infeksi ini.

    PENCEGAHAN

    Untuk orang-orang yang akan pergi ke daerah-daerah dimana tularemia sering terjadi, perlu melakukan beberapa cara pencegahan berikut :

    • Gunakan repellent untuk serangga yang mengandung 25-30% DEET (diethyltoluamide) pada kulit 
    • Gunakan repellent yang mengantung permethrin pada pakaian
    • Jika berjalan di hutan tetaplah berada pada jalur/jalan yang ada
    • Berjalanlah di bagian tengah jalur untuk menghindari kontak dengan semak-semak atau rumput
    • Pakailah celana panjang dan masukkan bagian bawahnya ke dalam kaus kaki dan sepatu boot
    • Cari dengan teliti apakah terdapat kutu pada pakaian, tubuh, atau hewan peliharaan. Mencari dengan teliti apakah terdapat kutu dapat mencegah infeksi karena transmisi infeksi dapat melalui gigitan kutu. Jika kutu ditemukan, maka harus segera diambil secara hati-hati.
    • Tidak minum, mandi, atau berenang pada air yang mungkin terkontaminasi
    • Gunakan pelindung (misalnya sarung tangan karet dan pelindung wajah) saat memegang seperti kelinci dan binatang pengerat karena kemungkinan adanya bakteri.
    • Binatang buruan harus dimasak dengan baik sampai matang sebelum dimakan
    • Ada vaksin untuk mencegah tularemia, tetapi hanya diberikan untuk orang-orang yang memiliki pekerjaan yang berisiko untuk terkena infeksi, misalnya pekerja di laboratorium.
    • Jika terpapar bakteri, misalnya akibat kecelakaan kerja di laboratorium, maka perlu diberikan antibiotik sebagai pencegahan infeksi.

    Referensi

    – L, Matthew E. Tularemia. Merck Manual Home Health Handbook. 2008.

    http://www.merckmanuals.com/home/infections/bacterial_infections/tularemia.html

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.