Tuberkulosis (TBC)

by -12 views

Tuberkulosis (TBC)

Tuberkulosis (TBC)
Tuberkulosis (TBC)
Sumber gambar : http://www.webmd.com

Definisi

Tuberkulosis merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebar melalui udara. Meskipun tuberkulosis dapat mengenai hampir seluruh organ tubuh, tetapi tuberkulosis biasanya mengenai paru-paru. Bakteri (Mycobacteria) lain yang berhubungan, misalnya Mycobacterium bovis atau Mycobacterium africanum, dapat menyebabkan penyakit yang serupa, tetapi tidak menular dan sebagian besar memberikan respon yang buruk terhadap obat-obatan yang sangat efektif mengobati tuberkulosis.

Sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi tuberkulosis biasanya bereaksi dengan menghancurkan bakteri atau menahannya di tempat terjadinya infeksi. Kadang bakteri tidak dimusnahkan tetapi tetap berada dalam bentuk tidak aktif (dorman) di dalam makrofag (sejenis sel darah putih) selama bertahun-tahun. Sekitar 80% infeksi tuberkulosis terjadi akibat pengaktifan kembali bakteri yang dorman. Bakteri yang tinggal di dalam jaringan parut akibat infeksi sebelumnya (biasanya di puncak salah satu atau kedua paru-paru) mulai berkembangbiak. Pengaktifan bakteri dorman ini bisa terjadi jika sistem kekebalan penderita menurun (misalnya karena AIDS, pemakaian kortikosteroid atau lanjut usia).

Biasanya seseorang yang terinfeksi oleh tuberkulosis memiliki peluang sebesar 5% untuk mengalami suatu infeksi aktif dalam waktu 1-2 tahun. Perkembangan tuberkulosis pada setiap orang bervariasi, tergantung kepada berbagai faktor:

  • Suku : tuberkulosis berkembang lebih cepat pada orang kulit hitam dan penduduk asli Amerika
  • Sistem kekebalan : infeksi aktif lebih sering dan lebih cepat terjadi pada penderita AIDS. Penderita AIDS memiliki peluang sebesar 50% utnuk menderita infeksi aktif dalam waktu 2 bulan. Jika bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik, maka kemungkinan meninggal pada penderita AIDS dan tuberkulosis dalam waktu 2 bulan adalah sebesar 50%.

    Tuberkulosis aktif biasanya dimulai di paru-paru (tuberkulosis pulmoner). Tuberkulosis yang menyerang bagian tubuh lainnya (tuberkulosis ekstrapulmoner) biasanya berasal dari tuberkulosis pulmoner yang telah menyebar melalui darah. Infeksi bisa tidak menyebabkan penyakit, tetapi bakteri tetap hidup dorman di dalam jaringan parut yang kecil.

  • Tuberkulosis Milier

    Tuberkulosis yang bisa berakibat fatal dapat terjadi jika sejumlah besar bakteri menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Infeksi ini disebut tuberkulosis milier, karena menyebabkan terbentuknya jutaan luka kecil seukuran jewawut (makanan burung). Gejala tuberkulosis milier bisa sangat samar dan sulit dikenali; yaitu berupa penurunan berat badan, demam, menggigil, lemah, tidak enak badan dan gangguan pernafasan. Jika menyerang sumsum tulang, bisa terjadi anemia berat dan kelainan darah lainnya, yang menyerupai leukemia. Pelepasan bakteri sewaktu-waktu ke dalam aliran darah dari luka yang tersembunyi bisa menyebabkan demam yang hilang-timbul, disertai penurunan berat badan secara bertahap.

    PENYEBAB

    Tuberkulosis disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis ditularkan melalui udara yang terkontaminasi oleh bakteri M. tuberculosis Udara terkontaminasi oleh bakteri karena penderita tuberkulosis aktif melepaskan bakteri melalui batuk dan bakteri bisa bertahan dalam udara selama beberapa jam.

    Janin bisa tertular dari ibunya sebelum atau selama proses persalinan karena menghirup atau menelan cairan ketuban yang terkontaminasi. Bayi bisa tertular karena menghirup udara yang mengandung bakteri. Di negara-negara berkembang, anak-anak terinfeksi oleh mikobakterium lainnya yang menyebabkan tuberkulosis. Organisme ini disebut M. bovis, yang bisa disebarkan melalui susu yang tidak disterilkan.

    Gejala

    Pada awalnya penderita hanya merasakan tidak sehat atau batuk. Pada pagi hari, batuk bisa disertai sedikit dahak berwarna hijau atau kuning. Jumlah dahak biasanya akan bertambah banyak, sejalan dengan perkembangan penyakit. Pada akhirnya, dahak akan berwarna kemerahan karena mengandung darah.

    Salah satu gejala yang paling sering ditemukan adalah berkeringat di malam hari. Penderita sering terbangun di malam hari karena tubuhnya basah kuyup oleh keringat sehingga pakaian atau bahkan sepreinya harus diganti.

    Sesak nafas merupakan pertanda adanya udara (pneumotoraks) atau cairan (efusi pleura) di dalam rongga pleura. Sekitar sepertiga infeksi ditemukan dalam bentuk efusi pleura.

    Pada infeksi tuberkulosis yang baru, bakteri pindah dari lesi di paru-paru ke dalam kelenjar getah bening. Jika sistem pertahanan tubuh alami bisa mengendalikan infeksi, maka infeksi tidak akan berlanjut dan bakteri menjadi dorman. Pada anak-anak, kelenjar getah bening membesar dan menekan bronkus sehingga menyebabkan batuk atau bahkan menyebabkan penciutan paru-paru. Kadang bakteri masuk ke saluran getah bening dan sampai ke kelenjar getah bening di leher. Infeksi pada kelenjar getah bening ini bisa sampai menembus kulit dan menghasilkan nanah.

    Tuberkulosis bisa menyerang organ tubuh lainnya selain paru-paru. Keadaan ini disebut tuberkulosis ekstrapulmoner. Bagian tubuh yang paling sering terkena adalah ginjal dan tulang. Tuberkulosis ginjal bisa hanya menghasilkan sedikit gejala, tetapi infeksi bisa menghancurkan sebagian ginjal dan tuberkulosis bisa menyebar ke kandung kemih.

    Tuberkulosis ginjal

    Pada pria, infeksi juga bisa menyebar ke prostat, vesikula seminalis dan epididimis, menyebabkan terbentuknya benjolan di dalam kantung zakar. Pada wanita, tuberkulosis bisa menyerang indung telur dan salurannya, sehingga terjadi kemandulan. Dari indung telur, infeksi bisa menyebar ke selaput rongga perut dan menyebabkan peritonitis tuberkulosis. Gejala yang muncul berupa nyeri pada perut disertai nyeri tekan ringan sampai nyeri hebat yang menyerupai radang usus buntu.

    Infeksi bisa menyebar ke persendian, menyebabkan artritis tuberkulosis. Sendi meradang dan nyeri. Yang paling sering terkena adalah sendi pinggul dan lutut; tetapi bisa juga menyerang tulang pergelangan tangan, tangan dan sikut.

    Tuberkulosis juga bisa menginfeksi kulit, usus dan kelenjar adrenal.
    Infeksi pada dinding aorta (arteri utama) menyebabkan pecahnya aorta.
    Infeksi pada kantung jantung menyebabkan perikarditis tuberkulosis, dimana perikardium teregang oleh cairan. Cairan ini bisa mengganggu kemampuan jantung dalam memompa darah. Gejalanya berupa demam, pelebaran vena leher dan sesak nafas.

    Infeksi pada jaringan yang melapisi otak disebut meningitis tuberkulosis. Gejalanya berupa demam, sakit kepala yang menetap, mual dan penurunan kesadaran. Kaku kuduk sehingga dagu tidak dapat didekatkan ke dada. Kadang setelah meningitisnya membaik, akan terbentuk massa di dalam otak, yang disebut tuberkuloma. Tuberkuloma bisa menyebabkan kelemahan otot (seperti yang terjadi pada stroke) dan harus diangkat melalui pembedahan.

    Pada anak-anak, bakteri bisa menginfeksi tulang belakang dan ujung tulang-tulang panjang pada lengan dan tungkai. Jika keadaan ini tidak segera diatasi, bisa terjadi kolaps pada 1 atau 2 tulang belakang yang dapat menyebabkan kelumpuhan.

    Mycobacterium bovis, yang bisa hidup pada hewan, dapat menyebar melalui susu yang terkontaminasi. Di negara-negara berkembang, anak-anak dapat terinfeksi akibat minum susu yang tidak dipasteurisasi dari hewan ternak yang terinfeksi. Bakteri akan tinggal di kelenjar getah bening leher atau di dalam usus halus. Selaput lendir saluran pencernaan resisten terhadap bakteri, karena itu infeksi baru terjadi jika bakteri terdapat dalam jumlah yang sangat banyak atau jika terdapat gangguan sistem kekebalan. Tuberkulosis intestinalis bisa tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat menyebabkan pertumbuhan jaringan yang abnormal di daerah yang terinfeksi, yang bisa disalahartikan sebagai kanker. Di negara-negara maju, tuberkulosis jenis ini tidak lagi menjadi masalah karena hewan ternak diperiksa apakah terkena tuberkulosis dan susu yang dihasilkan menjalani proses pasteurisasi.

    Tuberkulosis pada berbagai organ

    Bagian Yg Terinfeksi Gejala atau komplikasi
    Rongga perut Lelah, nyeri tekan ringan, nyeri seperti pada apendisitis
    Kandung kemih Nyeri saat berkemih
    Otak Demam, sakit kepala, mual, penurunan kesadaran, kerusakan otak yg menyebabkan terjadinya koma
    Perikardium Demam, pelebaran vena leher, sesak nafas
    Persendian Gejala yg menyerupai artritis
    Ginjal Kerusakan ginjal, infeksi di sekitar ginjal
    Organ reproduksi pria Benjolan di kantung zakar
    Organ reproduksi wanita Kemandulan
    Tulang belakang Nyeri, kollaps tulang belakang & kelumpuhan tungkai

    Diagnosa

    Foto rontgen dada seringkali merupakan petunjuk awal dari tuberkulosis. Penyakit ini tampak sebagai daerah putih yang bentuknya tidak teratur dengan latar belakang hitam. Rontgen juga bisa menunjukkan efusi pleura atau gangguan pada jantung, seperti perikarditis.

    Pemeriksaan diagnostik untuk tuberkulosis adalah:

    1. Tes kulit tuberkulin, disuntikkan sejumlah kecil protein yang berasal dari bakteri tuberkulosis ke dalam lapisan kulit (biasanya di lengan). 2 hari kemudian dilakukan pengamatan pada daerah suntikan, jika terjadi pembengkakan dan kemerahan, maka hasilnya adalah positif.
    2. Pemeriksaan dahak, cairan tubuh atau jaringan yang terinfeksi untuk diperiksa secara mikroskopik. Dengan sebuah jarum diambil contoh cairan dari dada, perut, sendi atau sekitar jantung. Mungkin perlu dilakukan biopsi untuk memperoleh contoh jaringan yang terinfeksi.

                                        

    Untuk memastikan diagnosis meningitis tuberkulosis, dilakukan pemeriksaan reaksi rantai polimerase (PCR) terhadap cairan serebrospinalis.
    Untuk memastikan tuberkulosis ginjal, bisa dilakukan pemeriksaan PCR terhadap air kemih penderita atau pemeriksaan rontgen dengan zat warna khusus untuk menggambarkan adanya massa atau rongga abnormal yang disebabkan oleh tuberkulosis. Kadang perlu dilakukan pengambilan contoh massa tersebut untuk membedakan antara kanker dan tuberkulosis.

    Untuk memastikan diagnosis tuberkulosis pada organ reproduksi wanita, dilakukan pemeriksaan panggul melalui laparoskopi.
    Pada kasus-kasus tertentu perlu dilakukan pemeriksaan terhadap contoh jaringan hati, kelenjar getah bening atau sumsum tulang.

    Pengobatan

    Terdapat 5 jenis antibotik yang dapat digunakan, yaitu Isoniazid, Rifampicin, Pyrazinamide, Streptomycin dan Ethambutol.

    Infeksi tuberkulosis pulmoner aktif seringkali mengandung 1 miliar atau lebih bakteri, sehingga pemberian 1 macam obat akan menyisakan ribuan organisme yang resisten terhadap obat tersebut. Karena itu, paling tidak, perlu diberikan 2 macam obat yang memiliki mekanisme kerja yang berlainan dan kedua obat ini akan bersama-sama memusnahkan semua bakteri.

    Setelah penderita sembuh, pengobatan harus terus dilanjutkan, karena diperlukan waktu yang lama untuk memusnahkan semua bakteri dan untuk mengurangi kemungkinan terjadi kekambuhan.

    Isoniazid, Rifampicin dan Pyrazinamide dapat digabungkan menjadi satu kapsul, sehingga mengurangi jumlah pil yang harus ditelan oleh penderita. Ketiga obat ini bisa menyebabkan mual dan muntah sebagai efek obat terhadap hati. Jika timbul mual dan muntah, maka pemakaian obat harus dihentikan sampai dilakukan pemeriksaan fungsi hati. Jika hasil pemeriksaan fungsi hati menunjukkan adanya reaksi terhadap salah satu dari ketiga obat tersebut, maka biasanya obat yang bersangkutan diganti dengan obat yang lain.

    Pemberian Ethambutol diawali dengan dosis yang relatif tinggi untuk membantu mengurangi jumlah bakteri dengan segera. Setelah 2 bulan, dosisnya dikurangi untuk menghindari efek samping yang berbahaya terhadap mata.

    Streptomycin merupakan obat pertama yang efektif melawan tuberkulosis, tetapi harus diberikan dalam bentuk suntikan. Jika diberikan dalam dosis tinggi atau pemakaiannya berlanjut sampai lebih dari 3 bulan, streptomisin bisa menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan.

    Jika penderita benar-benar mengikuti pengobatan dengan teratur, maka tidak perlu dilakukan pembedahan untuk mengangkat sebagian paru-paru. Kadang pembedahan dilakukan untuk membuang nanah atau memperbaiki kelainan bentuk tulang belakang akibat tuberkulosis.

    PENCEGAHAN

    Terdapat beberapa cara untuk mencegah tuberkulosis:

  • Sinar ultraviolet pembasmi bakteri, bisa digunakan di tempat-tempat dimana sekumpulan orang dengan berbagai penyakit harus duduk bersama-sama selama beberapa jam (misalnya di rumah sakit, ruang tunggu gawat darurat). Sinar ini bisa membunuh bakteri yang terdapat di dalam udara.
  • Isoniazid sangat efektif jika diberikan pada orang-orang dengan resiko tinggi tuberkulosis, misalnya petugas kesehatan dengan hasil tes tuberkulin positif, tetapi hasil rontgen tidak menunjukkan adanya penyakit. Isoniazid diminum setiap hari selama 6-9 bulan.
    Penderita tuberkulosis pulmoner yang sedang menjalani pengobatan tidak perlu diisolasi lebih dari beberapa hari karena obatnya bekerja secara cepat sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penularan. Tetapi penderita yang mengalami batuk dan tidak menjalani pengobatan secara teratur, perlu diisolasi lebih lama karena bisa menularkan penyakitnya. Penderita biasanya tidak lagi dapat menularkan penyakitnya setalah menjalani pengobatan selama 10-14 hari.
  • Di negara-negara berkembang, vaksin BCG dapat digunakan untuk membantu mencegah terjadinya komplikasi serius, seperti meningitis, pada orang-orang yang berisiko tinggi terinfeksi M. tuberculosis. Manfaat BCG sendiri masih dalam perdebatan. Pemakaian vaksin ini terus digunakan di negara-negara dimana kemungkinan tertular tuberkulosis sangat tinggi.
  • Referensi

    – N, Edward A. Tuberculosis. Merck Manual Home Health Handbook. 2008.

    http://www.merckmanuals.com/home/infections/tuberculosis_and_leprosy/tuberculosis.html

    – N, Vamada K. Understanding Tuberculosis. 2013. http://www.webmd.com/lung/

    understanding-tuberculosis-basics

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.