Tortikolis Spasmodik

by -4 views

Tortikolis Spasmodik

Tortikolis Spasmodik
Tortikolis Spasmodik
Sumber gambar : http://www.buzzle.com

Definisi

Tortikolis Spasmodik, atau disebut juga distonia servikal (cervical dystonia), merupakan suatu gangguan neurologis yang jarang terjadi, yang ditandai oleh adanya kontraksi otot involunter pada leher sehingga menimbulkan gerakan dan postur abnormal pada leher dan kepala.

Tortikolis spasmodik biasanya terjadi pada usia pertengahan, meskipun bisa juga terjadi pada masa remaja dan dewasa muda. Tingkat keparahan tortikolis spasmodik bervariasi. Gangguan ini bisa menyebabkan nyeri yang hebat, rasa tidak nyaman, dan gangguan akibat postur yang abnormal.

PENYEBAB

Pada sebagian besar kasus penyebabnya tidak diketahui. Namun, beberapa kasus tampaknya berhubungan dengan :

  • Cedera pada kepala, leher, atau bahu, misalnya cedera otot leher pada bayi baru lahir saat proses persalinan (tortikolis kongenitalis).
  • Pemakaian obat-obat tertentu, terutama obat anti-psikotik dan obat anti-muntah tertentu.
  • Hipertiroidisme
  • Infeksi sistem saraf
  • Tumor leher

Faktor risiko terjadinya tortikolis spasmodik antara lain :

  • Usia. Gangguan ini bisa terjadi pada usia berapa pun, bahkan pada anak-anak. Tetapi, paling sering terjadi antara usia 40-70 tahun.
  • Jenis Kelamin. Wanita hampir 2 kali lebih berisiko untuk mengalami tortikolis spasmodik dibandingkan pria.
  • Riwayat Keluarga. Jika ada anggota keluarga dekat yang mengalami tortikolis spasmodik (distonia servikal) atau distonia jenis lainnya, maka ia memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan tersebut.

Gejala

Kontraksi otot yang terjadi pada tortikolis spasmodik bisa menyebabkan kepala, leher, dan bahu berputar ke suatu arah, tergantung dari otot leher mana yang terkena, misalnya dagu tertarik ke arah bahu, telinga mendekati ke arah bahu, dagu mengarah ke atas, atau dagu mengarah ke bawah. Kelainan postur ini bersifat menetap. Awalnya kontraksi otot kadang bisa ditahan dengan usaha penderita.

Sumber : http://www.torticollis.org

Jenis yang paling sering terjadi pada tortikolis spasmodik adalah postur kepala dimana dagu tertarik ke arah bahu. Sebagian orang bisa mengalami kombinasi beberapa postur kepala yang abnormal. Selain itu, bisa terjadi gerakan kepala yang menyentak-nyentak.

Sebagian besar orang dengan tortikolis servikal juga mengalami rasa nyeri pada leher yang bisa menjalar sampai ke bahu dan sakit kepala. Nyeri yang timbul bisa sangat mengganggu.

Diagnosa

Diagnosis didasarkan dari gejala-gejala yang ada, riwayat cedera atau kelainan leher sebelumnya, dan hasil pemeriksaan fisik. Kadang dilakukan beberapa pemeriksaan untuk membantu menentukan apakah terdapat kondisi yang mendasari timbulnya spasme otot leher, misalnya :
– Pemeriksaan darah atau air kemih, untuk melihat apakah terdapat toksin tertentu di dalam tubuh.
– EMG (Elektromyografi), untuk membantu mengukur aktivitas listrik otot.
– Pemeriksaan pencitraan seperti CT scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging), untuk membantu mengidentifikasi adanya tumor atau stroke.

Pengobatan

Belum ada terapi yang dapat menyembuhkan tortikolis spasmodik. Pada sebagian penderita, tanda dan gejala bisa menghilang tanpa terapi, tetapi kekambuhan seringkali terjadi. Terapi bertujuan untuk meredakan tanda dan gejala yang ada, misalnya dengan :

  • Obat-obatan. Orang-orang dengan tortikolis spasmodik seringkali harus menggunakan kombinasi obat untuk mengatasi tanda dan gejala yang ada, misalnya :
    • Toksin Botulinum. Zat ini berefek melumpuhkan, dan seringkali digunakan untuk menghaluskan keriput di wajah. Pada tortikolis spasmodik, toksin Botulinum bisa disuntikkan langsung ke otot leher yang terkena. Sebagian besar orang dengan tortikolis spasmodik bisa segera melihat adanya perbaikan dengan terapi ini. Terapi biasanya harus diulang setiap 3-4 bulan.
    • Obat Parkinson, misalnya Trihexyphenidyl dan Benztropine, bisa digunakan sebagai kombinasi dengan toksin Botulinum. Obat ini seringkali memiliki efek samping, seperti mulut kering, sembelit, gangguan ingatan, penglihatan kabur, dan berkurangnya pancaran air kemih.
    • Relaksan otot, misalnya diazepam, lorazepam, dan klonazepam. Obat ini seringkali hanya sedikit membantu dan bisa menimbulkan efek samping, seperti sedasi dan gangguan kongnitif ringan.
    • Obat untuk mengatasi nyeri.
  • Terapi. 
    • Latihan untuk memperbaiki kekuatan dan kelenturan leher
    • Menggunakan penyangga leher
    • Latihan mengatasi stress
  • Pembedahan dan tindakan lainnya, bisa dilakukan jika terapi lainnya tidak membantu, misalnya 
    • Memotong otot atau saraf yang berperan dalam membentuk postur pada tortikolis spasmodik.
    • Stimulasi otak dalam melalui pembedahan.

Referensi

– Mayo Clinic. Cervical Dystonia. 2011. http://www.mayoclinic.com/health/spasmodic-torticollis/DS00836

– Web MD. Cervical Dystonia. 2012. http://www.webmd.com/brain/spasmodic-torticollis-11089

Leave a Reply

Your email address will not be published.