Stroke Hemorrhagic

by -4 views

Stroke Hemorrhagic

Stroke Hemorrhagic
Stroke Hemorrhagic
Sumber gambar : http://heart.arizona.edu

Definisi

Terdapat dua jenis utama stroke Hemorrhagic, yaitu perdarahan di dalam otak (intracerebral hemorrhage) dan perdarahan di antara bagian dalam dan luar lapisan pada jaringan yang melindungi otak (subarachnoid hemorrhage). 

Gangguan lain yang meliputi perdarahan di dalam tengkorak termasuk epidural dan hematomas subdural, yang biasanya disebabkan oleh trauma kepala. Gangguan ini menyebabkan gejala yang berbeda dan tidak dipertimbangkan sebagai stroke.

Penyebab Hemorrhagic Stroke
Jika dinding pembuluh darah otak lemah atau mendapat tekananyang tidak semestinya, maka bisa terjadi stroke perdarahan. Perdarahan bisa terjadi di dalam otak, sebagaiintracerebral hemorrhage, atau diantara lapisan bagian dalam dan tengah yang melindungi otak(pada ruang subarachnoid), sebagai subarachnoidhemorrhage.

PENYEBAB

Perdarahan intraserebral paling sering disebabkan oleh tekanan darah tinggi yang kronis, yang membuat pembuluh darah kecil di otak menjadi lemah dan pecah. Selain itu, penyalahgunaan kokain atau amfetamin dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah yang sangat tinggi dan perdarahan. Pada orang tua, terdapat akumulasi protein abnormal yang disebut amyloid pada pembuluh darah otak. Akumulasi amyloid ini melemahkan pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan terjadinya perdarahan. Selain itu, perdarahan juga dapat disebabkan oleh adanya gangguan perdarahan dan pemakaian antikoagulan dalam dosis terlalu tinggi.

Perdarahan subarachnoid biasanya terjadi akibat adanya cedera kepala. Namun, perdarahan karena cedera kepala biasanya memberi gejala yang berbeda dan tidak dianggap sebagai stroke. 

Perdarahan subarachnoid dianggap sebagai stroke hanya jika perdarahan terjadi secara spontan, bukan akibat dari adanya trauma pada kepala. Perdarahan spontan biasanya disebabkan oleh pecahnya aneurisma pada arteri serebri. Aneurisma merupakan tonjolan dari bagian lemah dari dinding pembuluh darah arteri. Anurisma dapat ada sejak lahir (kongenital) atau baru ada kemudian setelah adanya tekanan darah tinggi bertahun-tahun yang melemahkan dinding pembuluh darah arteri. Kebanyakan perdarahan subarachnoid berasal dari aneurisma kongenital. 

Lebih jarang perdarahan subarachnoid yang berasal dari pecahnya malformasi arteri-vena di kepala. Sebuah malformasi arteri-vena dapat ada sejak lahir, tetapi malformasi ini baru diketahui kemudian setelah timbul gejala. 

Gejala

Perdarahan intraserebral terjadi secara tiba-tiba. Sekitar setengah penderita dimulai dengan adanya sakit kepala hebat, biasanya saat beraktivitas. Namun pada orang tua biasanya sakit kepala yang dirasakan bersifat ringan atau tidak ada. Kemudian gejala dengan cepat berkembang menjadi berat dengan disfungsi otak. Gejala-gejala seperti kelemahan, kelumpuhan, hilangnya sensasi, dan baal biasanya mengenai satu sisi dari tubuh. Penderita dapat tidak mampu untuk berbicara atau menjadi linglung. Penglihatan dapat terganggu atau hilang. Pupil mata melebar atau mengecil. Selain itu sering terjadi mual, muntah, kejang, dan hilangnya kesadaran dalam waktu beberapa detik sampai menit.  

Pada perdarahan subarachnoid yang disebabkan oleh aneurisma, sebelum aneurisma pecah, biasanya tidak ada gejala, kecuali jika aneurisma tersebut menekan saraf atau terdapat perdarahan kecil sebelum terjadi perdarahan yang lebih hebat. Gejala-gejala awal yang dapat muncul meliputi sakit kepala berat yang tiba-tiba terjadi (thunderclap headache), nyeri pada wajah atau mata, penglihatan ganda, dan hilangnya sebagian lapang penglihatan. Gejala-gejala ini dapat muncul beberapa menit sampai beberapa minggu sebelum aneurisma pecah. Penderita sebaiknya segera pergi ke dokter jika mengalami sakit kepala yang tidak biasa.

Pecahnya aneurisma biasanya menimbulkan sakit kepala hebat yang tiba-tiba dalam waktu beberapa detik kemudian seringkali diikuti dengan hilangnya kesadaran. Sebagian penderita meninggal sebelum sampai dibawa ke rumah sakit. Beberapa penderita tetap tidak sadar atau koma. Sebagian penderita ada yang dapat sadar tetapi merasa linglung, mengantuk, dan gelisah. Penderita menjadi tidak responsif dan sulit untuk dibangunkan. Dalam waktu 24 jam, darah dan cairan serebrospinal di sekitar otak akan mengiritasi lapisan otak (meninges), menimbulkan kekakuan pada leher dan juga sakit kepala yang berlanjut, seringkali disertai muntah, pusing, dan nyeri pinggang. Fluktuasi dari frekuensi denyut jantung dan nafas seringkali terjadi, terkadang disertai kejang.

Diagnosa

Untuk mendiagnosa adanya stroke perdarahan dapat melihat dari gejala-gejala yang ada dan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik. Selain itu pemeriksaan radiologis, seperti CT scan atau MRI, juga dilakukan. Kedua pemeriksaan ini dapat membantu untuk membedakan stroke perdarahan dengan stroke iskemik. Pemeriksaan ini juga dapat memperlihatkan seberapa besar jaringan otak yang terkena. 

Pada perdarahan subarachnoid dapat dilakukan angiografi serebri untuk mengidentifikasi lokasi pecahnya aneurisma atau malformasi arteri-vena yang menyebabkan perdarahan.

Pengobatan

Pada penderita stroke perdarahan yang menggunakan obat antikoagulan, dibutuhkan terapi yang dapat membantu pembekuan darah, misalnya vitamin K dan transfusi trombosit.

Pembedahan untuk mengeluarkan darah yang terkumpul di otak dan menghilangkan tekanan di dalam kepala jarang dilakukan, karena meskipun mungkin dapat menyelamatkan nyawa, tindakan pembedahan itu sendiri dapat memicu terjadinya perdarahan yang lebih hebat dan dapat membuat kerusakan pada otak. 

Penderita dengan perdarahan subarachnoid harus segera dirawat di rumah sakit. Penderita harus istirahat total. Pemberian obat pereda nyeri diberikan untuk mengatasi sakit kepala hebat. Pemberian obat pelunak tinja diberikan agar penderita tidak mengedan saat buang air besar. Tekanan darah dijaga untuk mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut dan menjaga aliran darah ke area otak yang mengalami kerusakan. 

Pada penderita perdarahan dengan aneurisma, tindakan pembedahan dilakukan untuk menyumbat perdarahan dan memperkuat dinding pembuluh darah yang lemah, sehingga mengurangi risiko untuk terjadinya perdarahan yang fatal. Prosedur ini sulit, sehingga baik dilakukan ataupun tidak, risiko terjadinya kematian sama-sama tinggi, terutama pada penderita perdarahan yang dalam keadaan penurunan kesadaran atau koma. 

Obat yang digunakan untuk pengobatan stroke hemoragik meliputi:

  1. Obat-obat yang mengurangi tekanan pada otak, misalnya Manitol
  2. Obat untuk mengontrol tekanan darah tinggi perdarahan subarachnoid, misalnya Labetalol, NitroprussideHydralazine
  3. Obat untuk mengurangi risiko kejang, misalnya Fenitoin

Referensi

– Elias A Giraldo. Hemorrhagic Stroke. 2007. http://www.merckmanuals.com/home/

brain_spinal_cord_and_nerve_disorders/stroke_cva/hemorrhagic_stroke.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.