Sterilisasi

by -3 views

Sterilisasi

Sterilisasi
Sterilisasi
Sumber gambar : http://www.orlandohealthdocs.com

Definisi

Sterilisasi merupakan tindakan yang membuat seseorang tidak mampu bereproduksi.

Sterilisasi dilakukan dengan cara mengganggu atau memutuskan saluran yang membawa sperma atau sel telur sehingga mengakhiri kemampuan seseorang untuk bereproduksi. Tindakan ini dapat berupa vasektomi pada pria atau ligasi tuba pada wanita.

Tindakan sterilisasi harus selalu dipikirkan sebagai tindakan yang permanen. Meskipun, jika pasangan berubah pikiran, tindakan operasi dapat dilakukan untuk menyambung kembali saluran yang terputus (reanastomosis) untuk mencoba mengembalikan kesuburan. Reanastomosis cenderung lebih berhasil dilakukan pada wanita dibandingkan pada pria. Angka keberhasilan terjadinya kehamilan setelah reanastomosis pada pria berkisar antara 45-60% dan 50-80% setelah reanastomosis pada wanita. Kehamilan dapat juga diusahakan melalui pembuahan in vitro.

Sterilisasi adalah salah satu tindakan untuk mencegah kehamilan yang efektif, mudah, dan bersifat permanen. Tindakan sterilisasi pada wanita yang paling sering dilakukan adalah ligasi tuba fallopi. Tuba fallopi merupakan tempat sel telur dibuahi oleh sperma saat bergerak menuju ke dalam rahim. Pada sterilisasi tuba, tuba fallopi dipisahkan atau diikat, sehingga mencegah bertemunya sel telur dengan sperma.

Sterilisasi adalah keputusan yang besar, yang berarti wanita tersebut dan pasangannya tidak menginginkan anak lagi di kemudian hari. Keputusan untuk menjalani sterilisasi harus atas keinginan sendiri dan bukan paksaan oleh keluarga, pasangan, atau tenaga kesehatan.

Sterilisasi tuba harus dianggap sebagai tindakan yang permanen karena untuk mengembalikannya diperlukan operasi besar, yang tidak selalu berhasil.

Tahukah Anda
  • Sterilisasi meskipun dianggap permanen, seringkali dapat dipulihkan kembali
  • Setelah vasektomi, kontrasepsi harus tetap dilanjutkan untuk sementara sampai seluruh sperma yang disimpan dikeluarkan.

Ligasi Tuba

Ligasi tuba dilakukan untuk membuat wanita steril. Tindakan ini dilakukan dengan memotong dan mengikat atau menyumbat tuba fallopi, yaitu saluran yang membawa sel telur dari ovarium (indung telur) ke dalam rahim. Ligasi tuba lebih sulit dilakukan dibanding vasektomi, karena membutuhkan sayatan dari perut dan anestesi total atau regional. Wanita yang melahirkan anak dapat langsung segera disterilisasi setelah anaknya lahir, atau pada hari berikutnya. Sterilisasi juga dapat direncanakan di kemudian hari sebagai operasi elektif.

Ligasi tuba seringkali dilakukan menggunakan laparoskopi. Alat seperti selang teropong kecil dimasukkan melalui sayatan pada perut. Tuba fallopi kemudian dipotong dan diikat pada bagian ujungnya. Selain itu, tuba fallopi dapat juga dipotong dan ditutup dengan menggunakan elektrokauter. 

Setelah laparoskopi, sekitar 6% wanita dapat mengalami kompliakasi ringan, seperti infeksi pada kulit tempat sayatan dibuat atau konstipasi. Kurang dari 1% wanita dapat mengalami komplikasi berat, seperti perdarahan atau cedera pada kandung kemih atau usus.

Penutupan Saluran : Sterilisasi pada wanita
Kedua tuba fallopi (yang membawa sel telur dari ovarium ke rahim) dipotong,ditutup, atau disumbat sehingga sperma tidak bisa mencapai sel teluruntuk dibuahi.

Berbagai alat, seperti klip atau pengikat plastik, juga dapat digunakan untuk menyumbat tuba fallopi, daripada memotong atau mengikatnya. Sterilisasi lebih mudah untuk dipulihkan jika menggunakan alat-alat ini, karena kerusakan jaringan yang lebih sedikit. Namun, pemulihan tetap tidak selalu berhasil dilakukan.

Selain laparoskopi, dapat juga dilakukan histeroskopi, yaitu teropong dimasukkan melalui vagina dan rahim ke dalam tuba fallopi. Koil dapat dimasukkan ke dalam tuba fallopi untuk mengikatnya. Tindakan ini tidak memerlukan sayatan dan dapat menggunakan obat anestesi lokal, dengan atau tanpa obat penenang.

Sekitar 2% wanita bisa hamil dalam 10 tahun pertama setelah sterilisasi. Sekitar sepertiga dari mereka mengalami kehamilan ektopik di dalam tuba fallopi.

Pada kasus yang sangat jarang, ligasi tuba menyebabkan komplikasi seperti perdarahan dan cedera pada usus.

Pembedahan untuk mengangkat rahim (histerektomi) juga dapat menyebabkan seorang wanita menjadi steril (mandul). Tindakan ini biasanya hanya dilakukan untuk mengobati suatu gangguan daripada sebagai teknik sterilisasi.

Vasektomi

Tindakan sterilisasi pada pria dilakukan dengan vasektomi. Prosedur ini meliputi pemotongan dan pengikatan vas deferens (saluran yang membawa sperma dari testis) melalui sayatan kecil pada kedua skrotum, yaitu di bagian yang terdapat vas deferens. Vasektomi dapat dilakukan dengan anestesi lokal. Setelah vasektomi, kontrasepsi harus tetap digunakan untuk sementara. Biasanya, pria tidak langsung menjadi steril (mandul) sampai mereka telah melakukan ejakulasi sekitar 15-20 kali pasca vasektomi, karena banyak sperma yang tersimpan di dalam vesika seminalis. Seorang pria dikatakan steril (mandul) jika hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan tidak adanya sperma di dalam semen pada dua ejakulasi.

Tindakan vasektomi dapat menyebabkan komplikasi berupa :

  • adanya bekuan darah pada skrotum (terjadi pada kurang dari 5% pria)
  • peradangan akibat rembesan sperma
  • reanastomosis spontan (pada kurang dari 1% pria)

Gejala

Diagnosa

Pengobatan

Referensi

– M, Daniel R. Sterilization. Merck Manual Home Health Handbook. 2007.

http://www.merckmanuals.com/home/womens_health_issues/family_planning/

sterilization.html

– S, Thomas G; M, William J. Permanent Sterilization Procedures for Women. UpToDate. 2012.

http://www.uptodate.com/contents/permanent-sterilization-procedures-for-women-

beyond-the-basics

Leave a Reply

Your email address will not be published.