Sindroma Tourette

by -8 views

Sindroma Tourette

Sindroma Tourette
Sindroma Tourette
Sumber gambar : http://en.haberler.com

Definisi

Sindroma Tourette merupakan gangguan yang bersifat diturunkan (herediter) yang ditandai dengan adanya tic sederhana dan kompleks pada otot dan suara yang sering terjadi sepanjang hari selama minimal satu tahun.

Sindroma Tourette sering terjadi, mengenai sekitar 1 dari 100 orang. Sindroma Tourette 3 kali lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita. Sindroma Tourette seringkali dimulai saat awal masa kanak-kanak. Pada sebagian besar penderita, gejala-gejala yang terjadi sangat ringan sehingga gangguan tersebut tidak dikenali.

PENYEBAB

Penyebab sindroma Tourette belum diketahui, tetapi diperkirakan berasal dari kelainan dopamin atau neurotransmitter otak lainnya. Terdapat faktor genetik, tetapi bagaimana peran pasti dan gen apa yang terkait belum diketahui.

Gejala

Sindroma Tourette seringkali dimulai dengan tic sederhana pada otot, seperti menyeringai, menyentak-nyentakkan kepala, dan berkedip-kedip. Tics sederhana dapat hanya berupa suatu kebiasaan kegugupan dan dapat menghilang dengan berjalannya waktu. Beberapa tics tidak mengarah pada sindroma Tourette. Orang-orang dengan sindroma Tourette dapat berulang kali menggerakkan kepala dari satu sisi ke sisi yang lain, mengedip-ngedipkan mata, membuka mulut, dan meregangkan leher.

Gangguan dapat berkembang menjadi tics kompleks, meliputi tics vokal, memukul, menendang, dan sentakan-sentakan dalam bernafas yang tidak teratur dan tiba-tiba. Tics vokal dapat dimulai sebagai suara dengkuran, dengusan, senandung, atau suara menyalak dan berkembang menjadi umpatan-umpatan kompulsif yang tidak disadari. Untuk sebab yang tidak jelas dan seringkali ditengah pembicaraan, beberapa orang dengan sindroma Tourette dapat berteriak kacau, mencaci maki, atau mengatakan kata-kata yang berhubungan dengan kotoran (coprolalia). Ucapan-ucapan ini terkadang salah dianggap disengaja, terutama pada anak-anak. Meskipun coprolalia meupakan bentuk paling dikenal dari sindroma Tourette, sedikitnya 85% orang-orang dengan sindroma Tourette tidak mengalami coprolalia. Penderita juga dapat segera mengulangi kata-kata yang didengarnya (disebut echolalia).

Orang-orang dengan sindroma Tourette seringkali mengalami kesulitan dan merasa cemas untuk masuk ke dalam situasi sosial. Di masa lalu, orang-orang dengan sindroma Tourette dijauhi, diisolasi, atau bahkan dianggap sebagai kerasukan setan. Perilaku impulsif, agresif, dan merusak diri sendiri terjadi pada banyak penderita, dan perilaku obsesif-kompulsif terjadi pada sekitar setengah penderita. Anak-anak dengan sindroma Tourette terkadang memiliki kesulitan untuk belajar. Banyak dari mereka mengalami gangguan untuk memusatkan perhatian dan hiperaktif.

Diagnosa

Diagnosis dibuat berdasarkan gejala-gejala yang ada. Diagnosis dini dapat membantu orang tua untuk mengerti tics pada anak-anak mereka bersifat tidak disengaja dan hukuman tidak dapat menghentikan tics tersebut dan bahkan membuatnya lebih buruk.

Pengobatan

Jika gejala-gejala yang terjadi ringan, maka tidak perlu pemberian obat-obatan.

Tic sederhana, biasanya diberikan clonidin atau guanfacine. Clonidine, yang merupakan obat untuk mengatasi tekanan darah tinggi, terkadang dapat membantu dan terutama berguna untuk mengendalikan kecemasan dan perilaku obsesif-kompulsif. Obat-obat golongan benzodiazepin, seperti clonazepam dan diazepam, juga dapat membantu. Obat-obat ini memberikan efek sedatif ringan.

Untuk gejala yang berat : obat anti-psikotik dapat digunakan untuk menekan tics. Obat diberikan dengan dosis terendah yang dapat mengendalikan tics. Dosis kemudian dikurangi dengan meredanya tics. Haloperidol, yang merupakan obat anti-psikotik yang paling sering digunakan, efektif tetapi lebih memiliki efek samping dibanding obat anti-psikotik lainnya, seperti risperidone. Efek samping dari anti-psikotik yang dapat terjadi meliputi gejala-gejala yang mirip dengan penyakit Parkinson (parkinsonism), kegelisahan, kekakuan pada otot, kontraksi otot yang tidak disadari dan berlanjut (dystonia), peningkatan berat badan, penglihatan kabur, mengantuk, dan lambat dalam berpikir. Dyskinesia tardive, yang terdiri dari gerakan-gerakan involunter yang berulang, dapat terjadi dan menetap, meskipun setelah obat dihentikan. Secara tidak disadari, lengan atau tungkai menggeliat, lidah terjulur, dan bibir mencucu. Efek samping yang jarang tetapi lebih serius dapat berupa sindroma neuroleptik maligna, yang berupa demam tinggi, tekanan darah tinggi, rusaknya otot, dan koma.

Suntikan toksin botulinum pada otot-otot yang menghasilkan tics dapat mengurangi gerakan-gerakan abnormal. Toksin tersebut digunakan untuk melumpuhkan otot-otot.

Stimulasi otak yang dalam merupakan terapi percobaan untuk sindroma Tourette, tetapi terkadang dilakukan pada center-center tertentu dimana gangguan yang terjadi berat dan tidak efektif dengan pemberian obat. Elektroda diletakkan pada bagian-bagian otak yang diperkirakan berperan dalam tics.

Referensi

– E. David, P. Michael. Tics. 2007. http://www.merckmanuals.com/home/

brain_spinal_cord_and_nerve_disorders/movement_disorders/tics.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.