Sindroma Ovarium Polikistik (Sindroma Stein-Leventhal)

by -6 views

Sindroma Ovarium Polikistik (Sindroma Stein-Leventhal)

Sindroma Ovarium Polikistik (Sindroma Stein-Leventhal)
Sindroma Ovarium Polikistik (Sindroma Stein-Leventhal)
Sumber gambar : http://womenshealth.gov

Definisi

Sindroma Ovarium Polikistik (Sindroma Stein-Leventhal) adalah suatu penyakit dimana ovarium (indung telur) membesar dan mengandung banyak kantong yang berisi cairan (kista).

Sindroma ovarium polikistik ditandai dengan adanya sedikit obesitas, periode menstruasi yang tidak teratur atau tidak ada, serta gejala-gejala yang disebabkan oleh tingginya kadar hormon pria (androgen). Sindroma ovarium polikistik menyebabkan gangguan pada siklus menstruasi dan kecendrungan untuk memiliki kadar hormon pria yang tinggi (androgen).

PENYEBAB

Penyebab terjadinya sindroma ovarium polikistik belum diketahui dengan jelas. Beberapa bukti mengarah pada adanya gangguan fungsi enzim yang mengatur produksi hormon pria. Akibatnya, produksi hormon pria (androgen) meningkat. Tingginya kadar hormon pria ini meningkatkan risiko terjadinya sindroma metabolik, dimana didapatkan tekanan darah yang tinggi, kadar kolesterol yang tinggi, dan resistensi pada efek insulin. Jika kadar hormon pria tetap tinggi, maka risiko terjadinya diabetes, gangguan jantung dan pembuluh darah, serta tekanan darah tinggi meningkat. Selain itu, beberapa hormon pria dapat diubah menjadi estrogen, sehingga kadar estrogen meningkat. Peningkatan kadar estrogen ini tidak diimbangi dengan produksi progesteron yang cukup. Jika situasi ini berlanjut untuk waktu yang lama, maka lapisan endometrium rahim dapat menjadi sangat tebal (hiperplasi endometrium). Selain itu, risiko terjadinya kanker rahim (kanker endometrium) juga dapat meningkat.

Pada banyak wanita dengan sindroma ovarium polikistik, sel-sel tubuh mengalami resistensi terhadap efek insulin. Insulin membantu glukosa masuk ke dalam sel-sel tubuh sehingga dapat dipakai untuk energi. Ketika sel-sel tubuh mengalami resistensi, maka glukosa terakumulasi di dalam darah, dan pankreas menghasilkan insulin yang lebih banyak untuk mencoba menurunkan kadar gula dalam darah. Jika terjadi resistensi insulin sedang atau berat, maka didiagnosis sebagai diabetes.

Gejala

Gejala-gejala sindroma ovarium polikistik berkembang saat pubertas dan semakin berat dengan berjalannya waktu. Gejala-gejala bervariasi antar wanita, yaitu berupa :

  • Periode menstruasi biasanya tidak dimulai saat pubertas, dan indung telur tidak melepaskan sel telur (wanita tidak mengalami ovulasi) atau melepaskan sel telur secara tidak teratur. Wanita mengalami perdarahan dari vagina yang tidak teratur atau tidak ada periode menstruasi.
  • Adanya gejala-gejala yang berhubungan dengan kadar hormon pria yang tinggi, yang disebut maskulinisasi atau virilisasi, berupa jerawat, suara yang dalam, ukuran payudara yang kecil, dan meningkatnya ukuran otot dan rambut tubuh (hirsutisme). Rambut tumbuh seperti pada pria (misalnya pada dada dan wajah) dan dapat tipis di bagian pelipis.
  • Kebanyakan wanita memiliki tubuh yang agak gemuk. Insulin dihasilkan dalam jumlah yang sangat banyak sehingga menyebabkan berat badan meningkat dan sulit untuk menurunkan berat badan.
  • Insulin yang berlebihan juga menyebabkan kulit di ketiak, tengkuk, dan lipatan kulit menjadi lebih hitam dan tebal (akantosis nigrikan).

Diagnosa

Seringkali diagnosis didasarkan dari gejala-gejala yang ada. Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengukur kadar hormon, misalnya FSH (Follicle-Stimulating Hormone) dan hormon pria. Ultrasonografi dilakukan untuk melihat apakah ovarium (indung telur) mengandung banyak kista dan untuk melihat apakah terdapat tumor pada ovarium dan kelenjar adrenal. Tumor-tumor ini dapat menghasilkan hormon pria yang berlebihan sehingga juga dapat menimbulkan gejala-gejala yang mirip dengan sindroma ovarium polikistik.

Wanita dengan sindroma ovarium polikistik perlu dilakukan pengukuran tekanan darah dan juga biasanya kadar gula darah serta lemak (lipid), seperti kolesterol, untuk memeriksa apakah terjadi sindroma metabolik. Pemeriksaan darah juga dapat dilakukan untuk memeriksa apakah terjadi sindroma Cushing. Seringkali dilakukan biopsi endometrium untuk memastikan tidak terdapat kanker.

Pengobatan

Pengobatan tergantung kepada jenis dan beratnya gejala, usia penderita dan rencana kehamilan.

Jika kadar insulin tinggi, maka insulin perlu diturunkan. Olahraga (minimal 30 menit sehari) dan mengurangi konsumsi karbohidrat dapat membantu menurunkan kadar insulin. Pada beberapa wanita, penurunan berat badan dapat menurunkan kadar insulin hingga ovulasi dapat terjadi. Penurunan berat badan dapat membantu mengurangi pertumbuhan rambut tubuh dan risiko penebalan lapisan rahim.

Metformin, yang digunakan untuk mengobati diabetes tipe II, dapat digunakan untuk meningkatkan sensitifitas terhadap insulin sehingga tubuh tidak perlu membuat insulin terlalu banyak. Obat ini dapat membantu wanita untuk mengurangi berat badan, dan ovulasi serta periode menstruasi dapat terjadi kembali.

Jika wanita dengan sindroma ovarium polikistik ingin hamil, maka dapat dibantu dengan menurunkan berat badan. Jika tidak membantu, maka dapat dicoba dengan memberikan clomiphen, yaitu obat yang menstimulasi terjadinya ovulasi. Jika clomiphen tidak efektif dan wanita tersebut memiliki resistensi terhadap insulin, maka metformin dapat membantu karena metformin dapat menurunkan kadar insulin dan dapat memicu ovulasi. Jika obat ini masih juga tidak efektif, maka dapat diberikan terapi hormon, misalnya FSH (Follicle Stimulating Hormone) untuk menstimulasi ovarium, agonis GRH (Gonadotropin-Releasing Hormone) untuk menstimulasi pelepasan FSH, dan HCG (Human Chorionic Gonadotropin) untuk memicu ovulasi.

Wanita yang tidak ingin hamil dapat menggunakan pil KB yang mengandung progestin saja atau yang mengandung estrogen dan progestin (kombinasi). Kedua terapi ini dapat mengurangi risiko terjadinya kanker endometrium akibat kadar estrogen yang tinggi, membuat periode menstruasi lebih teratur, dan membantu menurunkan kadar hormon pria. Namun, pil KB yang mengandung estrogen tidak diberikan untuk wanita yang telah menopause atau yang memiliki faktor risiko terkena gangguan jantung atau pembuluh darah atau gangguan pembekuan darah.

Bulu tubuh yang berlebihan dapat disamarkan dengan diwarnai atau dihilangkan dengan elektrolisis, pencabutan, wax, laser, atau menggunakan cairan atau krim depilator (perontok bulu). Tidak ada obat yang benar-benar efektif untuk menghilangkan bulu tubuh yang berlebihan. Namun, beberapa obat berikut dapat membantu :

  • Krim Eflornithine, dapat membantu menghilangkan rambut di wajah yang tidak diinginkan.
  • Spironolactone, yaitu obat yang menghambat produksi dan aktivitas hormon pria, dapat mengurangi jumlah bulu tubuh yang tidak diinginkan. Efek samping yang dapat terjadi antara lain peningkatan produksi air kencing dan tekanan darah yang rendah (terkadang sampai menyebabkan pingsan). Spironolactone kurang aman untuk perkembangan janin, untuk itu wanita yang aktif secara seksual dan menggunakan spironolactone disarankan untuk menggunakan KB.
  • Cyproterone, yaitu progestin yang kuat, yang dapat menghambat aktivitas hormon pria, mengurangi jumlah bulu tubuh yang tidak diinginkan pada 50-70% wanita yang terkena.

Jerawat diatasi seperti jerawat biasanya, yaitu dengan obat-obatan seperti benzoyl peroxide, krim tretinoin, antibiotik topikal pada kulit, atau antibiotik minum.

Referensi

– P, JoAnn V. Polycystic Ovary Syndrome. Merck Manual Home Health Handbook. 2012.

http://www.merckmanuals.com/home/womens_health_issues/menstrual_disorders_and_

abnormal_vaginal_bleeding/polycystic_ovary_syndrome.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.