Rinitis Non-Alergika

by -7 views

Rinitis Non-Alergika

Rinitis Non-Alergika
Rinitis Non-Alergika
Sumber gambar : http://health.allrefer.com

Definisi

Rinitis Non-Alergika adalah suatu peradangan pada selaput lendir hidung tanpa latar belakang alergi. 

Pada rinitis non-alergika, penderita mengalami hidung tersumbat atau bersin-bersin, dan hidung meler tanpa penyebab yang jelas. Gejala-gejala rinitis non-alergika mirip dengan gejala-gejala rinitis alergika, tetapi tidak berhubungan dengan reaksi alergi. Rinitis alergika lebih sering terjadi pada orang-orang yang berusia di atas 20 tahun.

PENYEBAB

Jenis-jenis rinitis non-alergika:

  1. Rinitis Infeksiosa
    Rinitis infeksiosa biasanya disebabkan oleh infeksi pada saluran pernafasan bagian atas, baik oleh bakteri maupun virus.
  2. Rinitis Non-Alergika Dengan Sindroma Eosinofilia
    Penyakit ini diduga berhubungan dengan kelainan metabolisme prostaglandin. Pada hasil pemeriksaan apus hidung penderitanya, ditemukan eosinofil sebanyak 10-20%. Gejalanya berupa hidung tersumbat, bersin, hidung meler, hidung terasa gatal dan penurunan fungsi indera penciuman (hiposmia).
  3. Rinitis Okupasional
    Gejala-gejala rinitis hanya timbul di tempat penderita bekerja. Gejala-gejala rinitis biasanya terjadi akibat menghirup bahan-bahan iritan (misalnya debu kayu, bahan kimia). Penderita juga sering mengalami asma karena pekerjaan.
  4. Rinitis Hormonal
    Beberapa penderita mengalami gejala rinitis pada saat terjadi gangguan keseimbangan hormon (misalnya selama kehamilan, hipotiroid, pubertas, pemakaian pil KB). Estrogen diduga menyebabkan peningkatan kadar asam hialuronat di selaput hidung.
    Gejala rinitis pada kehamilan biasanya mulai timbul pada bulan kedua, terus berlangsung selama kehamilan dan akan menghilang pada saat persalinan tiba.
    Gejala utamanya adalah hidung tersumbat dan hidung meler.
  5. Rinitis Karena Obat-obatan
    Obat-obat yang berhubungan dengan terjadinya rinitis antara lain : 
    ACE inhibitor
    – reserpin
    – guanetidin
    – fentolamin
    – metildopa
    – beta-bloker
    – klorpromazin
    – gabapentin
    – penisilamin
    – aspirin
    – obat anti peradangan non-steroid
    – kokain
    – estrogen eksogen
    – pil KB
  6. Rinitis Gustatorius
    Rinitis gustatorius terjadi setelah mengkonsumsi makanan tertentu, terutama makanan yang panas dan pedas, serta alkohol.
  7. Rinitis Vasomotor
    Rinitis vasomotor diyakini merupakan akibat dari terganggunya keseimbangan sistem parasimpatis dan simpatis. Parasimpatis menjadi lebih dominan sehingga terjadi pelebaran dan pembengkakan pembuluh darah di hidung. Gejala yang timbul berupa hidung tersumbat, bersin-bersin dan hidung meler.
    Gejala biasanya dipicu oleh:
    – cuaca dingin
    – bau yang menyengat
    – stres
    – bahan iritan

Gejala

Jika seseorang memiliki rinitis non-alergika, maka ia mungkin mengalami gejala-gejala yang hilang timbul sepanjang tahun. Gejala-gejala yang muncul bisa berlangsung selama beberapa jam atau menetap selama beberapa hari. 

Tanda dan gejala rinitis non-alergika dapat berupa :
– bersin-bersin
– hidung meler
– lendir di tenggorokan (postnasal drip)
– hidung tersumbat

Rinitis non-alergika biasanya tidak menyebabkan hidung, mata, atau tenggorokan gatal (gejala-gejala yang berhubungan dengan alergi).

Diagnosa

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala yang ada dan menyingkirkan adanya alergi (misalnya dengan melakukan tes kulit terhadap alergen atau pemeriksaan darah terhadap Ig E).

Pengobatan

Pengobatan rinitis non-alergika berdasarkan penyebabnya :

  • Infeksi karena virus biasanya akan membaik dengan sendirinya dalam waktu 7-10 hari; sedangkan infeksi bakteri memerlukan terapi antibiotik.
  • Rinitis karena kehamilan biasanya akan membaik setelah persalinan.
  • Rinitis akibat pil KB dapat diatasi dengan cara mengganti dengan kontrasepsi lainnya.
  • Obat-obat yang bisa diberikan untuk meringankan gejala rinitis :

  • Obat semprot hidung yang berisi larutan saline. Obat ini dapat membantu mengeluarkan bahan-bahan iritan dan mengencerkan lendir hidung sehingga lebih mudah dikeluarkan.
  • Obat tetes hidung yang mengandung kortikosteroid untuk mengurangi peradangan, misalnya Fluticasone, Mometasone, atau Budesonide.
  • Obat semprot hidung yang mengandung antihistamin (misalnya Azelastine dan Olopatadine). Obat ini bisa mengurangi gejala-gejala rinitis non-alergika, seperti pembengkakan dan penyumbatan hidung.
  • Obat dekongestan. Obat ini tersedia dalam bentuk bebas, misalnya obat-obat yang mengandung pseudoefedrin dan phenylephrine. Obat-obat ini membantu menyempitkan pembuluh darah, sehingga mengurangi kongesti hidung.
  • PENCEGAHAN

    Pada banyak kasus, tidak ada cara yang dapat dilakukan untuk mencegah keadaan-keadaan yang bisa menyebabkan rinitis non-alergika. Namun, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejala dan mencegah kekambuhan, misalnya :

    • Temukan dan hindari faktor-faktor pemicu terjadinya rinitis, misalnya iritan dari lingkungan atau tempat kerja (debu atau asap), obat-obat tertentu, atau makanan yang panas atau pedas.
    • Tidak menggunakan dekongestan hidung secara berlebihan, karena bisa memperparah gejala

    Referensi

    – Mayo Clinic. Nonallergic Rhinitis. 2013.

    http://www.mayoclinic.com/health/nonallergic-rhinitis/DS00809

    – K, Scott. Nonallergic Rhinitis. Web MD. 2011.

    http://www.webmd.com/allergies/nonallergic-rhinitis

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.