Reumatoid Artritis

by -9 views

Reumatoid Artritis

Reumatoid Artritis
Reumatoid Artritis
Sumber gambar : https://ufhealth.org

Definisi

Reumatoid artritis adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian secara simetris mengalami peradangan kronis (biasanya mengenai sendi-sendi kecil di tangan dan kaki), sehingga terjadi pembengkakan, timbul rasa nyeri, serta seringkali pada akhirnya menyebabkan kerusakan dan kelainan bentuk sendi.

PENYEBAB

Reumatoid artritis terjadi karena sistem kekebalan tubuh menyerang selaput yang melapisi sendi (reaksi autoimun), sehingga terjadi peradangan yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan tulang rawan dan tulang yang menyusun sendi. Tendon dan ligamen yang menyokong sendi bisa menjadi lemah dan meregang. Umumnya, sendi akan mengalami perubahan bentuk dan kesegarisannya.

Penyebab terjadinya gangguan ini belum diketahui secara pesti, tetapi berbagai faktor (termasuk kecenderungan genetik) bisa mempengaruhi terjadinya reaksi autoimun. Faktor genetik bisa membuat seseorang lebih rentan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mungkin memicu timbulnya penyakit (misalnya infeksi virus atau bakteri tertentu).

Beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya reumatoid artritis antara lain :

  • Jenis kelamin. Reumatoid artritis lebih cenderung terjadi pada wanita dibandingkan pria.
  • Usia. Reumatoid artritis bisa terjadi pada berbagai usia, tetapi paling sering terjadi antara usia 40 – 60 tahun.
  • Riwayat keluarga. Jika terdapat anggota keluarga yang terkena reumatoid artritis, maka risiko terjadinya penyakit lebih tinggi.

Gejala

Tanda dan gejala reumatoid artritis bisa berupa :

  • Sendi-sendi membengkak, terasa hangat dan nyeri
  • Kekakuan sendi pada pagi hari (saat bangun tidur) yang bisa berlangsung selama beberapa jam. 
  • Benjolan-benjolan keras pada jaringan di bawah kulit di lengan (nodul reumatoid)
  • Kelelahan, demam, dan penurunan berat badan

Sumber : http://www.webmd.com

Reumatoid artritis awalnya cenderung mengenai sendi-sendi kecil, terutama sendi-sendi yang menghubungkan jari-jari ke tangan dan kaki. Seiring dengan berjalannya penyakit, gejala seringkali menyebar ke lutut, pergelangan kaki, siku, pinggul, dan bahu. Pada sebagian besar kasus, gejala-gejala muncul pada sendi yang sama pada kedua sisi tubuh. Keparahan penyakit mungkin bervariasi. Tanda dan gejala yang terjadi juga bisa hilang timbul.

Reumatoid artritis pada tangan menyebabkan penderita kesulitan untuk mengerjakan tugas sehari-hari, seperti membuka knob pintu dan membuka tutup botol. Reumatoid artritis pada sendi-sendi kecil di kaki menyebabkan penderita merasa sakit untuk berjalan, terutama pada pagi hari setelah bangun tidur.

Peradangan kronis bisa menyebabkan kerusakan pada jaringan, termasuk tulang rawan dan tulang, sehingga bisa terjadi kelainan bentuk dan gangguan fungsi sendi yang terkena. Sendi bisa mengalami kontraktur sehingga tidak dapat diregangkan atau digerakkan sepenuhnya. Jari-jari pada kedua tangan cenderung membengkok ke arah kelingking, sehingga tendon pada jari-jari tangan bergeser dari tempatnya.

Sumber : https://ufhealth.org

Pada kasus yang jarang, reumatoid artritis bahkan bisa mengenai sendi yang berperan dalam mengatur pita suara, sehingga bisa terjadi perubahan nada suara. Jika sendi ini mengalami peradangan, maka suara bisa menjadi serak.

Karena reumatoid artritis merupakan penyakit sistemik, maka peradangan bisa mengenai organ-organ dan bagian tubuh lainnya diluar sendi. Berbagai gangguan yang bisa terjadi pada reumatoid artritis antara lain :

  • Osteoporosis. Reumatoid artritis, dan juga obat-obat yang digunakan untuk mengobatinya, bisa meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis.
  • Sindroma terowongan karpal (carpal tunnel syndrome). Jika reumatoid artritis mengenai pergelangan tangan, maka peradangan yang terjadi bisa menekan saraf yang terdapat didalamnya.
  • Gangguan jantung. Reumatoid artritis bisa meningkatkan risiko terbentuknya peradangan dan sumbatan pada pembuluh darah arteri, demikian juga peradangan pada lapisan yang meliputi jantung (perikarditis).
  • Penyakit paru. Orang-orang dengan reumatoid artritis lebih berisiko untuk mengalami peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru, yang menyebabkan penderita menjadi sesak nafas.
  • Sindroma Sjogren. Peradangan yang mengenai kelenjar mata dan mulut bisa menyebabkan kekeringan pada daerah ini. Kekeringan pada mata bisa menyebabkan terjadinya abrasi kornea.
  • Sindroma Felty, terjadi pada penderita reumatoid artritis dengan pembesaran limpa dan penurunan jumlah sel darah putih.
  • Limfoma. Risiko terjadinya kanker kelenjar getah bening (limfoma) juga lebih tnggi pada orang-orang dengan reumatoid artritis, terutama mereka yang terus mengalami peradangan sendi yang aktif.
  • Peradangan pembuluh darah (vaskulitis). Vaskulitis bisa mengganggu suplai darah ke jaringan dan menyebabkan kematian jaringan (nekrosis). Gangguan ini awalnya seringkali tampak sebagai daerah hitam yang kecil di sekitar kuku atau luka (ulkus) di tungkai.
  • Anemia.

Diagnosa

Reumatoid artritis bisa sulit untuk didiagnosa pada tahap awal, karena tanda dan gejala yang ada mirip dengan banyak gangguan lainnya, seperti :
Artritis gonokokal
– Penyakit Lyme
– Sindroma Reiter
Artritis psoriatik
Spondilitis ankilosing
Gout
Pseudogout
Osteoartritis

Tidak ada pemeriksaan darah atau pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis.

Pada pemeriksaan fisik, bisa ditemukan adanya sendi-sendi yang membengkak, tampak merah, dan terasa hangat. Selain itu, bisa dilakukan pemeriksaan penunjang seperti :

  1. Pemeriksaan darah
    – Penderita cenderung mengalami peningkatan laju endap darah (LED)
    – Sebagian besar penderita mengalami anemia
    – Kadang terdapat penurunan jumlah sel darah putih
    – Sekitar 80% penderita memiliki rheumatoid factor– Sebagian besar penderita reumatoid artritis ditemukan adanya antibodi anti-CCP (Anti-Cyclic Citrullinated Peptide)
    – Kadar C-reactive protein biasanya meningkat. Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan tingkat peradangan yang terjadi.
  2. Pemeriksaan cairan sendi.
  3. Rontgen, bisa menunjukkan adanya perubahan pada sendi.

Sumber : http://www.e-radiography.net

Diagnosa reumatoid artritis didasarkan dari adanya kombinasi berbagai kriteria berikut :

  • Adanya peradangan pada sendi-sendi yang khas untuk reumatoid artritis
  • Adanya peningkatan kadar rheumatoid factor, antibodi anti-CCP, atau keduanya
  • Adanya pengingkatan kadar C-reactive protein(/em>, laju endap darah (LED), atau keduanya
  • Gejala-gejala berlangsung setidaknya selama 6 minggu

Pengobatan

Belum ada pengobatan yang dapat digunakan untuk menyembuhkan reumatoid artritis. Tujuan terapi adalah untuk mengurangi peradangan sendi dan rasa nyeri, memaksimalkan fungsi sendi, dan mencegah terjadinya kerusakan dan kelainan bentuk sendi.

Penanganan yang diberikan meliputi :

– Istirahat dan Nutrisi

Sendi yang mengalami peradangan berat harus diistirahatkan, karena pemakaian sendi bisa memperberat peradangan yang terjadi. Istirahat secara teratur seringkali dapat membantu meredakan rasa nyeri, dan terkadang istirahat total dapat membantu untuk meredakan kekambuhan penyakit yang berat.

Pembidaian bisa dilakukan untuk mencegah pergerakan sendi (imobilisasi) sehingga sendi dapat diistirahatkan, tetapi beberapa gerakan sendi tetap diperlukan untuk mencegah kekakuan dan kelemahan otot.

Tidak ada makanan tertentu yang dapat menyembuhkan reumatoid artritis atau telah terbukti bisa menimbulkan kekambuhan penyakit. Makanan mengandung minyak ikan (asam lemak omega-3) bisa membantu meredakan gejala pada beberapa orang dengan reumatoid artritis. Selain itu, efek anti-peradangan dari curcumin yang terdapat pada kunyit bisa bermanfaat untuk mengurangi gejala-gejala penyakit.

– Obat-Obat untuk Reumatoid Artritis

Tujuan utama pengobatan adalah untuk mengurangi peradangan dan mencegah terjadinya kerusakan, kelainan bentuk, dan gangguan fungsi sendi.

Ada beberapa kategori obat yang digunakan untuk mengobati reumatoid artritis, yaitu :

Obat anti-peradangan non-steroid (NSAID)

NSAID biasanya digunakan untuk mengatasi gejala-gejala reumatoid artritis, seperti pembengkakan dan rasa nyeri. Obat ini tidak dapat mencegah kerusakan sendi akibat perkembangan reumatoid artritis.

NSAID sebaiknya tidak digunakan untuk orang-orang dengan gangguan saluran cerna, seperti ulkus peptikum atau tukak lambung, karena NSAID bisa menyebabkan gangguan lambung. Obat-obat golongan PPI (Proton Pump Inhibitor), seperti lansoprazole, omeprazole, dan pantoprazole, bisa digunakan untuk mengurangi risiko terjadinya gangguan saluran cerna.

Efek samping lain yang bisa terjadi akibat pemakaian obat NSAID antara lain sakit kepala, peningkatan tekanan darah, perburukan tekanan darah tinggi, perburukan fungsi ginjal, pembengkakan, serta penurunan fungsi trombosit. NSAID juga bisa meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung dan stroke. Risiko ini tampaknya lebih tinggi jika obat digunakan dalam dosisi yang lebih besar dan untuk waktu yang lebih lama.

DMARD (Disease-Modifyinng Antirheumatic Drug)

Obat ini menghambat perkembangan penyakit reumatoid artritis, sehingga diberikan pada hampir semua penderita segera sesudah terdiagnosa. Meskipun gejala berkurang dengan pemberian NSAID, tetapi DMARD tetap diperlukan karena penyakit tetap berkembang meskipun gejala-gejala minimal atau tidak ada. Pemberian kombinasi obat DMARD mungkin lebih efektif ketimbang obat tunggal. Namun, karena risiko efek samping yang mungkin terjadi berbahaya, maka pemakaian obat ini harus dipantau secara ketat.

Kortikosteroid

Kortikosteroid merupakan obat yang paing efektif untuk mengurangi peradangan dan gejala-gejala reumatoid artritis yang terjadi di bagian tubuh manapun, termasuk peradangan pada selaput paru (pleuritis) dan selaput jantung (perikarditis). Meskipun kortikosteroid efektif untuk pemakaian jangka pendek, tetapi obat ini tidak dapat mencegah kerusakan sendi dan bisa menjadi kurang efektif pada pemakaian jangka panjang, padahal reumatoid artritis biasanya aktif selama bertahun-tahun.

Ada kontroversi mengenai pemakaian kortikosteroid apakah dapat memperlambat perkembangan penyakit reumatoid artritis atau tidak. Selain itu, pemakaian kortikosteroid jangka panjang hampir selalu menimbulkan efek samping, hampir di seluruh organ tubuh. Efek samping bisa terjadi antara lain : penipisan kulit, memar, osteoporosis, tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang tinggi dan katarak.

Oleh karena itu, kortikosteroid biasanya hanya digunakan untuk jangka pendek, yaitu pada awal terapi untuk mengatasi gejala-gejala yang berat (sampai didapatkan efek dari DMARD) atau saat terjadi kekambuhan penyakit yang berat pada banyak sendi.

Karena risiko efek samping yang mungkin terjadi, kortikosteroid hampir selalu digunakan dalam dosis terendah yang efektif. Orang-orang dengan ulkus peptikum, tekanan darah tinggi, infeksi yang tidak teratasi, diabetes, dan glaukoma sebaiknya tidak menggunakan obat kortikosteroid.

Obat Imunosupresan

Meskipun kortikosteroid menekan sistem kekebalan tubuh, tetapi ada obat-obat lain yang lebih kuat menekan sistem kekebalan tubuh (obat imunosupresan). Obat ini dapat memperlambat perkembangan penyakit dan mengurangi kerusakan tulang pada sendi yang terkena.

Obat imunosupresan efektif untuk mengatasi reumatoid artritis berat. Obat ini dapat menekan peradangan, sehingga pemberian kortikosteroid bisa dihindari atau diberikan dalam dosis yang lebih rendah. Tetapi obat imunosupresan memiliki efek samping yang berat dan toksisitas yang tinggi, misalnya gangguan hati, risiko tinggi untuk terkena infeksi, penekanan produksi sel-sel darah di sumsum tulang, perdarahan kandung kemih (pada pemakaian cyclophosphamide), dan risiko terjadinya kanker tertentu (pada pemakaian azathioprine dan cyclophosphamide).

– Terapi Lainnya

Terapi bukan obat yang dapat dilakukan antara lain berupa :

  • olahraga
  • terapi fisik, seperti pemijatan (massage), traksi, dan terapi pemanasan
  • terapi okupasi
  • pembedahan

Sendi yang meradang harus dilatih secara perlahan sehingga tidak terjadi kekakuan. Setelah peradangan mereda, bisa dilakukan latihan aktif yang rutin, tetapi jangan sampai terlalu lelah. Biasanya latihan akan lebih mudah jika dilakukan di dalam air. Untuk mengatasi persendian yang kaku, perlu dilakukan latihan yang intensif dan kadang digunakan pembidaian untuk meregangkan sendi secara perlahan.

Tindakan bedah mungkin diperlukan untuk kasus tertentu yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan, misalnya kelainan bentuk anggota gerak tubuh yang membatasi penderita untuk beraktifitas.

Pembedahan untuk mengganti sendi lutut atau sendi pinggul merupakan cara yang paling efektif untuk mengembalikan mobilitas dan fungsi sendi jika penyakit telah mencapai tahap lanjut. Sendi juga bisa satukan, terutama pada kaki, sehingga penderita bisa berjalan tanpa rasa nyeri, atau pada tulang belakang untuk mencegah penekanan pada medula spinalis.

Perbaikan sendi dengan pemasangan sendi buatan dilakukan jika sendi telah mengalami kerusakan berat sehingga memiliki fungsi yang terbatas.

Penderita yang menjadi cacat karena artritis rematoid bisa menggunakan alat bantu untuk melakukan aktivitas sehari-hari, misalnya dengan menggunakan sepatu ortopedik atau sepatu atletik khusus.

Referensi

– A, Roy D. Rheumatoid Arthritis (RA). Merck Manual Home Health Handbook. 2013.

http://www.merckmanuals.com/home/bone_joint_and_muscle_disorders/joint_disorders/

rheumatoid_arthritis_ra.html

– Mayo Clinic. Rheumatoid Arthritis. 2013.

http://www.mayoclinic.com/health/rheumatoid-arthritis/DS00020

– S, William C. Rheumatoid Arthritis. Medicine Net. 2013.

http://www.medicinenet.com/rheumatoid_arthritis/article.htm

– T, Ariel D. Rheumatoid Arthritis. Medline Plus. 2012.

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000431.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published.