Radang Usus Buntu (Appendisitis) pada Anak

by -4 views

Radang Usus Buntu (Appendisitis) pada Anak

Radang Usus Buntu (Appendisitis) pada Anak
Radang Usus Buntu (Appendisitis) pada Anak
Sumber gambar : http://science.howstuffworks.com

Definisi

Radang usus buntu (Appendisitis) adalah peradangan dan infeksi pada usus buntu (appendiks).

  • Radang usus buntu (Appendisitis) tampaknya terjadi ketika usus buntu tersumbat oleh material keras di dalam tinja (fecalith) atau pembengkakan kelenjar getah bening pada usus halus yang dapat terjadi karena berbagai infeksi.
  • Rasa nyeri, di dekat usus buntu (appendiks) atau di seluruh bagian perut, bisa membuat anak menjadi lekas marah atau lesu.
  • Diagnosa terus diupayakan dan bisa berupa pemeriksaan darah, foto sinar X, ultrasonografi, CT scan, atau laparoscopy.
  • Usus buntu yang terinfeksi diangkat dengan cara operasi.

Usus buntu (appendiks) merupakan bagian dari usus yang berukuran kecil, sebesar jari, dan tidak memiliki fungsi penting yang jelas untuk tubuh. Radang usus buntu adalah keadaan darurat medis yang membutuhkan operasi. Penyakit ini jarang terjadi pada anak yang berusia di bawah 1 tahun, namun lebih umum terjadi pada saat anak bertambah besar dan paling sering terjadi pada usia remaja sampai usia 20 tahunan.

PENYEBAB

Radang usus buntu (appendisitis) tampaknya terjadi ketika usus buntu tersumbat oleh material tinja yang keras (fecalith) atau pembengkakan kelenjar getah bening di usus halus, yang bisa terjadi karena berbagai infeksi. Pada kedua kasus tersebut, usus buntu (appendiks) membengkak, dan bakteri di dalamnya berkembang. Pada kasus yang jarang, radang usus buntu juga bisa disebabkan oleh adanya benda asing atau cacing.

Jika radang usus buntu (appendisitis) tidak dikenali atau tidak ditangani, maka appendiks bisa pecah dan menyebabkan kantong infeksi di luar usus halus (abses) atau keluarnya isi usus ke dalam rongga perut dan menyebabkan infeksi berat (peritonitis). Pada sekitar 25% anak yang mengalami radang usus buntu, appendiks sudah pecah saat mereka sampai di rumah sakit.

Gejala

Penyakit usus buntu hampir selalu menyebabkan rasa sakit. Rasa sakit bisa berawal dari perut bagian tengah, sampai ke pusar, dan berakhir di perut bagian kanan bawah. Rasa sakit, umumnya pada bayi dan anak-anak, bisa agak meluas dan tidak hanya terkonsentrasi pada perut bagian kanan bawah. Anak-anak yang lebih kecil mungkin kurang mampu menunjukkan lokasi spesifik dari sakit yang dirasakan.

Setelah rasa sakit pada perut muncul, banyak anak mulai muntah dan tidak mau makan. Umumnya terjadi demam ringan (sekitar 37.7-38.3oC). Kondisi ini berbeda dengan anak-anak yang mengalami gastroenteritis karena virus, dimana biasanya timbul muntah lebih dulu dan sakit perut serta diare timbul kemudian.

Diagnosa

Banyak gangguan yang bisa menimbulkan gejala-gejala yang mirip dengan appendisitis, misalnya gastroenteritis virus, divertikulum Meckel, intususepsi, dan penyakit Crohn. Seringkali, anak-anak tidak memiliki gejala-gejala dan hasil pemeriksaan fisik yang khas, terutama jika appendiks tidak berada pada posisi yang biasanya, yaitu di perut bagian kanan bawah.

Dugaan radang usus buntu pada anak biasanya dipastikan dengan bantuan pemeriksaan ultrasonografi, sehingga menghindari paparan radiasi pada anak. Jika tidak memadai, maka bisa dilakukan pemeriksaan CT scan perut atau laparoscopy untuk melihat bagian dalam perut. Pemeriksaan fisik berulang, terutama pada anak-anak dengan nyeri perut yang tidak khas, bisa membantu dokter untuk memastikan apakah terdapat appendisitis atau tidak.

Pengobatan

Pengobatan terbaik untuk radang usus buntu (appendisitis) adalah mengangkat usus buntu (appendiks) yang meradang melalui pembedahan (appendiktomi). Tindakan operasi ini cukup sederhana dan aman, biasanya hanya membutuhkan rawat inap selama 2-3 hari pada kasus-kasus tanpa komplikasi. Tetapi, jika appendiks telah pecah, maka appendiks perlu diangkat, selain itu rongga perut perlu dicuci dan penderita perlu diberikan antibiotik selama beberapa hari. Setelah operasi, perlu dipantau apakah terjadi komplikasi, seperti infeksi atau sumbatan usus.

Pada sekitar 10-20% kasus, ditemukan appendiks yang normal saat dilakukan appendiktomi. Tetapi temuan ini tidak dianggap sebagai kesalahan medis, karena jika dicurigai terjadi appendicitis dan tindakan operasi ditunda, maka bisa menimbulkan akibat yang serius. Jika appendiks ditemukan normal, biasanya appendiks tetap diangkat, sehingga anak tersebut tidak akan pernah mengalami appendisitis, dan kemudian dokter bedah akan mencari apakah terdapat penyebab lain dari timbulnya rasa nyeri pada perut. Tanpa pembedahan atau antibiotik, lebih dari 50% penderita appendisitis akan meninggal.

Referensi

– C, William J. Appendicitis. Merck Manual Home Health Handbook. 2012.

http://www.merckmanuals.com/home/childrens_health_issues/digestive_disorders_in_

children/appendicitis_in_children.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.