Pre-Eklampsia dan Eklampsia

by -4 views

Pre-Eklampsia dan Eklampsia

Pre-Eklampsia dan Eklampsia
Pre-Eklampsia dan Eklampsia
Sumber gambar : http://www.upmc.com

Definisi

Pre-eklampsia (Toksemia Gravidarum) adalah tekanan darah tinggi yang disertai dengan proteinuria (protein dalam air kemih) atau edema (penimbunan cairan), yang terjadi setelah kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan. Eklampsia adalah bentuk pre-eklampsia yang lebih berat, yang menyebabkan terjadinya kejang atau koma.

Pre-eklampsia terjadi pada sekitar 5% kehamilan dan lebih sering ditemukan pada kehamilan pertama dan pada wanita yang sebelumnya menderita tekanan darah tinggi atau penyakit pembuluh darah. Eklampsia terjadi pada 1 dari 200 wanita yang menderita pre-eklampsia dan jika tidak diobati secara tepat biasanya bisa berakibat fatal.

PENYEBAB

Penyebab pre-eklampsia dan eklampsia tidak diketahui. Beberapa keadaan yang mungkin dapat menyebabkan terjadinya pre-eklampsia, antara lain : asupan makan yang buruk, gangguan sistem imunitas, kerusakan pembuluh darah, dan insufisiensi aliran darah ke rahim. Faktor risiko terjadinya pre-eklampsia adalah :

  • Kehamilan pertama
  • Hamil kembar
  • Kegemukan
  • Berusia lebih dari 35 tahun
  • Riwayat menderita diabetes, tekanan darah tinggi, atau penyakit ginjal

Terjadinya eklampsia mengikuti pre-eklampsia. Sulit diprediksi apakah wanita dengan pre-eklampsia akan mengalami kejang. Seseorang berisiko tinggi untuk mengalami kejang jika memiliki pre-eklampsia berat dan :

  • Sakit kepala
  • Perubahan dalam penglihatan
  • Tekanan darah yang sangat tinggi
  • Pemeriksaan darah yang abnormal

Gejala

Seringkali wanita yang mengalami pre-eklampsia tidak merasa sakit. Gejala-gejala pre-eklampsia dapat berupa :

– tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mm Hg
– wajah atau tangan membengkak (edema)
– peningkatan berat badan yang tiba-tiba dalam 1-2 hari, kira-kira lebih dari 1 kg dalam seminggi
– kadar protein yang tinggi dalam air kemih

Seorang wanita yang pada saat hamil tekanan darahnya meningkat secara berarti tetapi tetap dibawah 140/90 mm Hg, juga dikatakan menderita pre-eklampsia.

Gejala-gejala pre-eklampsia berat meliputi :

  • Sakit kepala yang tidak hilang-hilang
  • Nyeri perut sisi kanan, di bawah tulang rusuk
  • Iritabilitas
  • Penurunan produksi air kencing, jarang berkemih
  • Mual dan muntah
  • Perubahan penglihatan, termasuk kebutaan sementara, melihat kilatan cahaya atau bercak-bercak cahaya, sensitif terhadap sinar, dan penglihatan yang buram

Gejala-gejala eklampsia meliputi :

  • Nyeri dan sakit pada otot
  • Kejang
  • Tidak sadar

Bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita pre-eklampsia, 4-5 kali lebih rentan terhadap kelainan yang timbul segera setelah lahir. Bayi yang dilahirkan juga mungkin kecil karena adanya kelainan fungsi plasenta atau karena lahir prematur.

Komplikasi utama pre-eklampsia dan eklampsia adalah sindroma HELLP, yang terdiri dari:

  • Hemolisis (penghancuran sel darah merah)
  • Peningkatan enzim hati (yang menunjukkan adanya kerusakan hati)
  • Penurunan jumlah trombosit (yang menunjukkan adanya gangguan kemampuan pembekuan darah)
    Sindroma HELLP cenderung terjadi jika pengobatan pre-eklampsia tertunda. Jika terjadi sindroma HELLP, bayi harus segera dilahirkan melalui operasi sesar.
  • Diagnosa

    Untuk memastikan adanya pre-eklampsia, maka perlu dilakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium. Pada pre-eklampsia, hasil pemeriksaan dapat menunjukkan :

    • Tekanan darah yang tinggi, biasanya lebih dari 140/90 mmHg
    • Pembengkakan pada tangan dan wajah
    • Peningkatan berat badan
    • Adanya protein dalam air kemih (proteinuria)
    • Kadar enzim hati meningkat lebih dari normal
    • Trombosit kurang dari 100.000/μl darah

    Pemeriksaan juga dilakukan untuk melihat fungsi pembekuan darah, kesehatan bayi, dan kemungkinan terjadinya kejang. Pemeriksaan ultrasonografi dan tes lainnya dapat membantu untuk menentukan apakah bayi perlu segera dilahirkan atau tidak. Wanita yang memiliki tekanan darah yang rendah pada saat awal kehamilan dan mengalami peningkatan tekanan darah yang signifikan perlu dimonitor ketat akan adanya tanda-tanda lain pre-eklampsia.

    Pengobatan

    Satu-satunya cara untuk mengatasi pre-eklampsia adalah dengan melahirkan bayi yang dikandungnya. Jika bayi yang dikandung telah cukup berkembang (biasanya sudah mencapai usia kehamilan 37 minggu atau lebih), bayi dapat dilahirkan sehingga pre-eklampsia tidak bertambah berat. Proses persalinan dapat dipicu dengan obat-obatan, atau dapat juga melalui operasi caesar.

    Jika bayi yang dikandung belum berkembang sempurna dan hanya terdapat pre-eklampsia ringan, maka ibu hamil dapat dirawat di rumah sampai bayi siap untuk dilahirkan. Untuk itu, sebaiknya melakukan :

    • Istirahat total, tirah baring dengan miring ke sisi kiri
    • Minum cukup air
    • Kurangi asupan garam
    • Sering memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan ibu dan bayi dalam keadaan baik
    • Terkadang dapat diberikan obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah

    Terkadang wanita hamil yang mengalami pre-eklampsia dirawat di rumah sakit sehingga dapat memonitor kondisi ibu dan bayinya. Terapi di rumah sakit dapat berupa : 

    • Observasi ketat ibu dan bayi
    • Pemberian obat-obat untuk mengendalikan tekanan darah dan mencegah kejang serta komplikasi lainnya
    • Pemberian suntikan steroid (setelah usia kehamilan 24 minggu) untuk mempercepat pematangan paru bayi

    Bayi harus dilahirkan jika terdapat tanda-tanda pre-eklampsia berat serta :

    • Pemeriksaan yang menunjukkan bayi tidak berkembang dengan baik atau tidak mendapat suplai darah dan oksigen yang cukup
    • Tekanan diastolik darah di atas 110 mmHg atau lebih dari 100 mmHg selama lebih dari 24 jam
    • Hasil pemeriksaan fungsi hati yang abnormal
    • Sakit kepala hebat
    • Nyeri pada daerah perut
    • Terjadi kejang atau perubahan fungsi mental
    • Sindroma HELLP
    • Jumlah trombosit yang rendah atau terjadi perdarahan
    • Jumlah air kemih yang sedikit, tinggi protein, dan adanya tanda-tanda gangguan fungsi ginjal

    Tanda-tanda pre-eklampsia harus dimonitor dengan ketat untuk melihat apakah ada perburukan atau potensi terjadinya eklampsia. Persalinan merupakan terapi utama pre-eklampsia berat untuk mencegah terjadinya eklampsia.

    Observasi ketat dapat dilakukan untuk mempertahankan kehamilan hingga mencapai usia kehamilan 32-34 minggu pada pre-eklampsia berat, atau usia kehamilan 36-37 minggu pada pre-eklampsia ringan. Kondisi ini membantu mengurangi komplikasi terjadinya persalinan yang prematur.

    Obat-obatan dapat diberikan untuk mencegah terjadinya kejang, misalnya magnesium sulfat. Selain itu, ada juga obat yang diberikan untuk menurunkan tekanan darah yang tinggi. Tetapi jika tekanan darah tetap tinggi, maka mungkin diperlukan terminasi kehamilan (persalinan).

    Setelah persalinan, wanita yang mengalami pre-eklampsia atau eklampsia perlu dimonitor ketat selama 2-4 hari karena berisiko untuk terjadi kejang. Tekanan darah bisa tetap tinggi selama 6-8 minggu. Jika lebih dari 8 minggu tekanan darahnya tetap tinggi, kemungkinan penyebabnya tidak berhubungan dengan pre-eklampsia.

    PENCEGAHAN

    Tidak ada cara untuk mencegah terjadinya pre-eklampsia. Hal yang penting untuk semua wanita hamil adalah untuk memulai memeriksakan kehamilan sedini mungkin ke dokter selama masa kehamilan. Diagnosa dan terapi sedini mungkin untuk pre-eklampsia dapat mencegah terjadinya eklampsia pada wanita hamil.

    Referensi

    – F, Edmund F. Preeclampsia. Merck Manual Home Health Handbook. 2008.

    http://www.merckmanuals.com/home/womens_health_issues/complications_of_

    pregnancy/preeclampsia.html

    – Z, David. Preeclampsia. Medline Plus. 2012. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/

    ency/article/000898.htm

    – V, Linda J. Eclampsia. Medline Plus. 2012. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/

    ency/article/000899.htm

    – Mayo Clinic. Preeclampsia. 2011. http://www.mayoclinic.com/health/preeclampsia/

    DS00583/DSECTION=causes

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.