Pneumonitis Hipersensitivitas (Pneumonitis Interstisial Alergika)

by -3 views

Pneumonitis Hipersensitivitas (Pneumonitis Interstisial Alergika)

Pneumonitis Hipersensitivitas (Pneumonitis Interstisial Alergika)
Pneumonitis Hipersensitivitas (Pneumonitis Interstisial Alergika)
Sumber gambar : http://www.cdc.gov

Definisi

Pneumonitis Hipersensitivitas (Alveolitis Alergika Ekstrinsik, Pneumonitis Interstisial Alergika) adalah suatu peradangan paru yang terjadi didalam dan sekitar alveolus paru yang disebabkan oleh reaksi alergi terhadap alergen (bahan asing) yang terhirup. Alergen bisa berupa debu organik atau bahan kimia (lebih jarang). 

PENYEBAB

Banyak jenis debu yang bisa menyebabkan reaksi alergi di paru-paru. Debu organik yang mengandung mikroorganisme, protein, atau bahan kimia bisa menyebabkan pneumonitis hipersensitivitas. Contoh pneumonitis hipersensitivitas yang paling terkenal adalah paru-paru petani (farmer’s lung), yang terjadi akibat menghirup bakteri termofilik di gudang tempat penyimpanan jerami secara berulang. Paparan juga bisa terjadi di kantor atau rumah, yaitu jika alat pelembab udara, sistem pemanas, maupun AC terkontaminasi (air conditioner lung disease), sehingga mengedarkan antigen yang bisa menyebabkan reaksi hipersensitivitas.

Hanya sejumlah kecil orang yang menghirup debu tersebut yang akan mengalami reaksi alergi, dan hanya sedikit dari orang yang mengalami reaksi alergi yang akan mengalami kerusakan paru-paru yang menetap. Umumnya, seseorang harus berulang kali terpapar oleh alergen sampai akhirnya timbul sensitivitas dan penyakit.

Penyakit akut bisa terjadi dalam waktu 4-8 jam setelah pemaparan, yaitu pada saat penderita keluar dari daerah tempat ditemukannya alergen. Penyakit kronis disertai dengan perubahan pada foto rontgen dada bisa terjadi pada paparan jangka panjang. Penyakit kronis bisa menyebabkan terjadinya fibrosis paru (pembentukan jaringan parut pada paru).

Beberapa contoh pneumonitis hipersensitivitas yaitu :

  • Penyakit paru-paru petani (farmer’s lung disease), akibat paparan spora jamur pada jerami
  • Pigeon breeder’s disease, akibat paparan partikel protein pada kotoran burung merpati
  • Sauna taker’s disease, akibat paparan jamur yang tumbuh pada kontainer yang basah
  • Mushroom workers’ disease, akibat paparan pada kompos yang berjamur
  • Bagassosis, akibat paparan terhadap tebu yang berjamur
  • Penyakit paru-paru pembuat anggur (Winemaker’s lung), akibat paparan terhadap jamur pada anggur
  • Sequoiosis, akibat paparan terhadap serbuk kayu yang berjamur
  • Suberosis, akibat paparan terhadap serbuk gabus yang berjamur

Gejala

Gejala dari pneumonitis hipersensitivitas akut :
– batuk
– demam
– menggigil
– sesak nafas
– merasa tidak enak badan

Pada pneumonitis hipersensitivitas akut, gejala biasanya muncul dalam waktu 4-8 jam setelah paparan terhadap alergen. Pada kasus ini, jarang ditemukan adanya mengi (wheezing). Jika seseorang tidak mengalami kontak lagi dengan antigen, maka gejala biasanya akan berkurang dalam waktu satu atau dua hari, tetapi pemulihan sempurna bisa memakan waktu berminggu-minggu.

Pada bentuk yang lebih lambat dari pneumonitis hipersensitivitas (subakut), gejala bisa muncul dalam waktu beberapa hari atau minggu (misalnya batuk dan sesak nafas), dan terkadang bisa menjadi sangat berat, sehingga penderita perlu di rawat inap.

Pada pneumonitis hipersensitivitas kronis, penderita berulang kali mengalami kontak dengan antigen dalam waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun, sehingga bisa terbentuk jaringan parut pada paru-paru (fibrosis paru).

Gejala yang bisa ditemukan pada pneumonitis hipersensitivitas kronis antara lain :
– sesak nafas, terutama saat beraktivitas
– batuk
– kelelahan
– nafsu makan berkurang
– penurunan berat badan

Pada akhirnya, pnumonitis hipersensitivitas kronis bisa menyebabkan terjadinya gagal nafas.

Diagnosa

Diagnosa pneumonitis hipersensitivitas didasarkan pada gambaran klinis, identifikasi debu atau zat lain yang menyebabkan gangguan (jika mungkin), dan bukti adanya paparan terhadap agen yang diduga (ditentukan dengan ditemukannya antibodi dalam darah).

Jika antigen tidak dapat diidentifikasi dan diagnosis masih belum pasti, maka bisa dilakukan paparan ulang terhadap antigen yang diduga berperan dalam terjadinya gejala. Selanjutnya, dilakukan pengamatan untuk melihat apakah timbul gejala atau perubahan pada fungsi paru.

Pada kasus yang belum jelas, terutama jika diduga terjadi infeksi pada paru-paru, bisa dilakukan pemeriksaan terhadap contoh jaringan paru di bawah mikroskop dengan melakukan biopsi paru. Contoh jaringan paru bisa diambil dengan cara melakukan bronkoskopi.

Pemeriksaan lain yang bisa dilakukan:

  • Rontgen dada, seringkali menunjukkan adanya kelainan paru yang bervariasi.
  • CT scan dada, bisa dilakukan untuk mendapatkan gambaran paru yang lebih mendetail.
  • Tes fungsi paru
  • Pemeriksaan kulit (skin test) terhadap jamur, bakteri, atau partikel tertentu
  • Hitung jenis darah
  • Pengobatan

    Orang-orang yang mengalami pneumonitis hipersensitivitas akut biasanya akan pulih jika bisa menghindari kontak lebih lanjut dengan alergen. Jika penyakit yang terjadi lebih berat, maka bisa diberikan kortikosteroid, seperti Prednison, untuk mengurangi gejala dan membantu mengurangi peradangan. Penyakit yang berulang atau berlangsung lama bisa mengarah pada terjadinya penyakit yang menetap. Fungsi paru-paru bisa semakin memburuk sehingga perlu diberikan terapi oksigen tambahan.

    PENCEGAHAN

    Cara pencegahan yang paling baik adalah dengan cara menghindari paparan terhadap antigen, tetapi cara ini mungkin bisa sulit dilakukan jika seseorang tidak dapat berganti pekerjaan.

    Beberapa cara lain yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah sensitisasi dan kekambuhan antara lain :

    • menghilangkan atau mengurangi debu
    • menggunakan masker pelindung
    • menggunakan sistem ventilasi yang baik

    Referensi

    – N, Lee S. Hypersensitivity Pneumonitis. Merck Manual Home Health Handbook. 2006.

    http://www.merckmanuals.com/home/lung_and_airway_disorders/allergic_and_autoimmune_

    diseases_of_the_lungs/hypersensitivity_pneumonitis.html

    – S, George. Hypersensitivity Pneumonitis. Medicine Net. 2012.

    http://www.medicinenet.com/hypersensitivity_pneumonitis/article.htm

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.