Perdarahan Rahim Disfungsional

by -4 views

Perdarahan Rahim Disfungsional

Perdarahan Rahim Disfungsional
Perdarahan Rahim Disfungsional
Sumber gambar : http://health.allrefer.com

Definisi

Perdarahan rahim disfungsional adalah perdarahan abnormal akibat perubahan hormonal.

Perdarahan rahim disfungsional paling sering terjadi pada awal dan akhir masa reproduktif; 20% kasus terjadi pada remaja dan lebih dari 50% terjadi pada wanita yang berusia diatas 45 tahun.

PENYEBAB

Perdarahan rahim disfungsional biasanya terjadi akibat kadar estrogen yang tetap tinggi, tidak turun seperti seharusnya setelah sel telur dilepaskan dan tidak mengalami pembuahan. Kadar estrogen yang tinggi ini tidak diseimbangkan dengan kadar progesteron yang cukup. Pada kasus tertentu, tidak ada sel telur yang dilepaskan, dan permukaan rahim bisa terus menebal dan tidak meluruh seperti seharusnya saat periode menstruasi. Penebalan yang abnormal ini disebut hiperplasi endometrium. Secara berkala, lapisan rahim yang menebal terlepas sebagian dengan tidak teratur, sehingga menimbulkan perdarahan yang tidak teratur, lama, dan terkadang sangat banyak. Jenis perdarahan ini umumnya terjadi pada wanita dengan sindroma ovarium polikistik dan pada beberapa wanita dengan endometriosis. Jika siklus penebalan dan peluruhan rahim yang tidak teratur terus berlanjut, maka dapat terbentuk sel-sel pre-kanker dan meningkatkan risiko terjadinya kanker rahim (kanker endometrial), bahkan pada wanita berusia muda.

Perdarahan rahim disfungsional juga seringkali merupakan tanda awal terjadinya menopause.

Gejala

Perdarahan rahim disfungsional dapat dibedakan dari periode menstruasi yang biasanya dari beberapa karakteristik berikut :

  • Terjadi lebih sering (jarak antar perdarahan kurang dari 21 hari – polimenore)
  • Sering terjadi perdarahan yang tidak teratur di antara siklus menstruasi (metrorrhagia)
  • Perdarahan yang terjadi banyak atau berlangsung lebih dari 7 hari, tetapi pada interval yang teratur (menorrhagia)
  • Perdarahan yang terjadi banyak, sering, dan tidak teratur di antara siklus menstruasi (menometrorrhagia)

Perdarahan saat siklus menstruasi dapat bersifat abnormal. Perdarahan juga dapat terjadi pada waktu yang tidak disangka-sangka. Beberapa wanita dapat mengalami gejala-gejala yang berhubungan dengan menstruasi, seperti payudara menjadi kencang, kembung, dan kram, tetapi banyak juga yang tidak mengalaminya.

Jika perdarahan terus berlangsung, maka dapat terjadi kekurangan zat besi dan terkadang anemia.

Diagnosa

Dugaan perdarahan rahim disfungsional didasarkan dari adanya perdarahan yang terjadi secara tidak teratur atau dalam jumlah berlebihan. Diagnosa perdarahan rahim disfungsional dapat ditegakkan ketika semua penyebab lain yang mungkin telah disingkirkan, misalnya gangguan pada organ reproduksi (sindroma ovarium polikistik), peradangan, gangguan pembekuan darah, gangguan tiroid, kehamilan, komplikasi kehamilan, dan penggunaan obat kontrasepsi atau obat-obat tertentu lainnya.

Untuk menyatakan bahwa suatu perdarahan bersifat abnormal, maka perlu diketahui bagaimana pola perdarahan. Untuk menyingkirkan penyebab lain yang mungkin, maka perlu diketahui riwayat medis dan dilakukan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang.

Pemeriksaan yang biasanya dilakukan:

  • Pemeriksaan darah lengkap
  • Pemeriksaan serum HCG (tes kehamilan)
  • Tes fungsi tiroid
  • Pemeriksaan kadar prolaktin, FSH, LH
  • Biopsi endometrium
  • Histeroskopi
  • Ultrasonografi (USG) panggul atau transvagina seringkali dilakukan untuk memeriksa apakah terdapat pertumbuhan pada rahim dan apakah terjadi penebalan pada lapisan rahim.
  • Jika risiko kanker endometrium meningkat, maka perlu dilakukan pemeriksaan contoh jaringan rahim (biopsi endometrium). Risiko ini meningkat pada wanita dengan :

    • Usia 35 tahun atau lebih 
    • Obesitas
    • Sindroma Ovarium Polikistik
    • Tekanan darah tinggi
    • Diabetes
    • Perdarahan yang menetap, tidak teratur, atau banyak, meskipun dengan terapi
    • Penebalan rahim (yang dideteksi dengan ultrasonografi)

    Pengobatan

    Terapi yang diberikan tergantung dari usia penderita, seberapa berat perdarahan yang terjadi, apakah terjadi penebalan rahim, dan apakah wanita tersebut masih ingin hamil atau tidak.

    Terapi bertujuan untuk mengendalikan perdarahan dan, jika diperlukan, mencegah kanker endometrium. Perdarahan dapat dikendalikan dengan obat-obatan. Pertama-tama biasanya digunakan obat yang bukan hormon, terutama untuk penderita berusia muda, karena efek samping obat yang lebih sedikit (misalnya NSAID atau asam traneksamat).

    Ketika rahim mengalami penebalan tetapi sel-selnya masih normal (hiperplasi endometrium), maka diberian hormon untuk mengendalikan perdarahan. Seringkali digunakan pil KB yang mengandung estrogen dan progestin. Disamping untuk mengendalikan perdarahan, pil KB juga dapat mengurangi rasa nyeri pada payudara dan kram yang dapat ikut menyertai perdarahan, serta untuk mengurangi risiko terjadinya kanker endometrium. Perdarahan biasanya berhenti dalam 12-24 jam. Terkadang diperlukan dosis tinggi untuk mengendalikan perdarahan. Setelah perdarahan berhenti, pil KB dosis rendah dapat diberikan selama minimal 3 bulan untuk mencegah perdarahan ulang.

    Sebagian wanita, misalnya wanita post-menopause dan wanita yang berisiko sakit jantung, gangguan pembuluh darah, atau gangguan pembekuan darah, sebaiknya tidak menggunakan estrogen, termasuk estrogen dalam pil KB kombinasi, tetapi dapat menggunakan progestin saja. Progestin yang diberikan ini tidak dapat mencegah kehamilan, untuk itu perlu menggunakan metode kontrasepsi lain jika ingin mencegah kehamilan.

    Jika lapisan rahim tetap menebal atau perdarahan menetap meskipun sudah diberikan terapi hormon, maka biasanya diperlukan dilatasi dan kuretase. Dengan tindakan ini, lapisan rahim dibuang. Namun, pada beberapa wanita, tindakan ini dapat menimbulkan jaringan parut pada endometrium (sindroma Asherman), yang dapat menyebabkan berhentinya perdarahan menstruasi (amenore).

    Jika setelah dilatasi dan kuretase perdarahan tetap terjadi, maka perlu dilakukan tindakan untuk menghancurkan atau mengangkat lapisan rahim (ablasi endometrium) untuk membantu mengendalikan perdarahan, misalnya dengan pembekuan atau teknik lainnya. Jika perdarahan tetap berlanjut, maka dapat dianjurkan untuk dilakukan pengangkatan rahim (histerektomi).

    Jika lapisan rahim mengandung sel-sel yang abnormal, terutama pada wanita yang berusia lebih dari 35 tahun dan tidak ingin hamil lagi, maka terapi dapat dimulai dengan pemberian progestin dosis tinggi. Biopsi kemudian dilakukan setelah 3-6 bulan terapi. Jika hasil biospi ditemukan adanya sel-sel yang abnormal, maka dilakukan histerektomi karena sel-sel abnormal dapat menjadi ganas.

    Pada kasus yang jarang, perdarahan yang sangat hebat membutuhkan penanganan darurat, seperti pemberian cairan melalui pembuluh darah dan transfusi darah. Adakalanya, kateter dengan balon yang dapat dikembangkan di ujungnya dimasukkan melalui vagina ke dalam rahim. Balon kemudian dikembangkan untuk memberi tekanan pada pembuluh darah yang mengalami perdarahan sehingga perdarahan dapat berhenti.

    Referensi

    – P, JoAnn V. Dysfunctional Uterine Bleeding. Merck Manual Home Health Handbook. 2012.

    http://www.merckmanuals.com/home/womens_health_issues/menstrual_disorders_and_

    abnormal_vaginal_bleeding/dysfunctional_uterine_bleeding.html

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.