Perdarahan Intrakranial

by -6 views

Perdarahan Intrakranial

Perdarahan Intrakranial
Perdarahan Intrakranial
Sumber gambar : http://medicalcenter.osu.edu

Definisi

Perdarahan Intrakranial adalah perdarahan di dalam tulang tengkorak.
Perdarahan terjadi di dalam otak atau di sekeliling otak: 
– Perdarahan yang terjadi di dalam otak disebut perdarahan intraserebral
– Perdarahan diantara otak dan rongga subaraknoid disebut perdarahan subaraknoid
– Perdarahan diantara lapisan selaput otak (meningen) disebut perdarahan subdural
– Perdarahan diantara tulang tengkorak dan selaput otak disebut perdarahan epidural
Setiap perdarahan akan menimbulkan kerusakan pada sel-sel otak. 
Ruang di dalam tulang tengkorak sangat terbatas, sehingga adanya perdarahan dengan cepat akan menyebabkan bertambahnya tekanan dan hal ini sangat berbahaya.

PENYEBAB

Cedera kepala merupakan penyebab yang paling sering perdarahan intrakranial pada penderita berusia dibawah 50 tahun. Penyebab lainnya adalah malformasi arteriovenosa, yaitu kelainan anatomis di dalam arteri atau vena di dalam atau di sekitar otak. Malformasi arteriovenosa merupakan kelainan bawaan, tetapi baru diketahui keberadaannya jika telah menimbulkan gejala. Perdarahan dari malformasi arteriovenosa bisa terjadi secara tiba-tiba dan dapat menyebabkan hilangnya kesadaran serta kematian. Perdarahan ini biasanya menyerang remaja dan dewasa muda.
Kadang terdapat dinding pembuluh darah yang lemah dan menonjol, disebut dengan aneurisma. Dinding aneurisma yang tipis bisa pecah dan menyebabkan perdarahan. Aneurisma di dalam otak merupakan penyebab perdarahan intrakranial, yang bisa menyebabkan stroke hemoragik (stroke karena perdarahan).

Gejala

PERDARAHAN INTRASEREBRAL
Perdarahan intraserebral merupakan salah satu jenis stroke, yang disebabkan oleh adanya perdarahan ke dalam jaringan otak. Perdarahan intraserebral terjadi secara tiba-tiba, dimulai dengan sakit kepala, yang diikuti oleh tanda-tanda kelainan neurologis (misalnya kelemahan, kelumpuhan, mati rasa, gangguan berbicara, gangguan penglihatan dan kebingungan). Sering terjadi mual, muntah, kejang dan penurunan kesadaran, yang bisa timbul dalam waktu beberapa menit.

Biasanya dilakukan pemeriksaan CT scan dan MRI untuk membedakan stroke iskemik dengan stroke perdarahan. Pemeriksaan tersebut juga bisa menunjukkan luasnya kerusakan otak dan peningkatan tekanan di dalam otak.

Pungsi lumbal biasanya tidak perlu dilakukan, kecuali jika diduga terdapat meningitis atau infeksi lainnya.

Pembedahan bisa memperpanjang harapan hidup penderita, meskipun masih dapat meninggalkan kelainan neurologis yang berat. Tujuan pembedahan adalah untuk membuang darah yang telah terkumpul di dalam otak dan untuk mengurangi tekanan di dalam tengkorak.

Perdarahan intraserebral merupakan jenis stroke yang paling berbahaya. Stroke biasanya luas, terutama pada penderita tekanan darah tinggi menahun. Lebih dari separuh pendeirta yang memiliki perdarahan yang luas, meninggal dalam beberapa hari. Penderita yang selamat biasanya kembali sadar dan sebagian fungsi otaknya kembali, karena tubuh akan menyerap sisa-sisa darah.

PERDARAHAN SUBARAKNOID
Perdarahan subaraknoid adalah perdarahan tiba-tiba ke dalam rongga diantara otak dan selaput otak (rongga subaraknoid). Sumber dari perdarahan adalah pecahnya dinding pembuluh darah yang lemah (apakah suatu malformasi arteriovenosa ataupun suatu aneurisma) secara tiba-tiba. Kadang aterosklerosis atau infeksi menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah sehingga pembuluh darah pecah. Pecahnya pembuluh darah bisa terjadi pada usia berapa saja, tetapi paling sering menyerang usia 25-50 tahun. Perdarahan subaraknoid jarang terjadi setelah suatu cedera kepala.

Perdarahan subaraknoid karena aneurisma biasanya tidak menimbulkan gejala. Kadang aneurisma menekan saraf atau mengalami kebocoran kecil sebelum pecah, sehingga menimbulkan pertanda awal, seperti sakit kepala, nyeri wajah, penglihatan ganda atau gangguan penglihatan lainnya. Pertanda awal bisa terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa minggu sebelum aneurisma pecah. Jika timbul gejala-gejala tersebut harus segera dibawa ke dokter agar bisa diambil tindakan untuk mencegah perdarahan yang hebat.

Pecahnya aneurisma biasanya menyebabkan sakit kepala mendadak yang hebat, yang seringkali diikuti oleh penurunan kesadaran sesaat. Beberapa penderita mengalami koma, tetapi sebagian besar terbangun kembali, dengan perasaan bingung dan mengantuk.

Darah dan cairan serebrospinal di sekitar otak akan mengiritasi selaput otak (meningen), dan menyebabkan sakit kepala, muntah dan pusing. Denyut jantung dan laju pernafasan sering naik turun, kadang disertai dengan kejang. Dalam beberapa jam bahkan dalam beberapa menit, penderita kembali mengantuk dan linglung. Sekitar 25% penderita memiliki kelainan neurologis, yang biasanya berupa kelumpuhan pada satu sisi badan.

Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan CT scan, yang bisa menunjukkan lokasi dari perdarahan. Jika diperlukan, bisa dilakukan pungsi lumbal untuk melihat adanya darah di dalam cairan serebrospinal. Angiografi dilakukan untuk memperkuat diagnosis dan sebagai panduan jika dilakukan pembedahan.

Sekitar sepertiga penderita meninggal pada episode pertama karena luasnya kerusakan otak. Sekitar 15% penderita meninggal dalam beberapa minggu setelah terjadi perdarahan. Penderita aneurisma yang tidak menjalani pembedahan dan bertahan hidup, setelah 6 bulan memiliki resiko sebanyak 5% untuk terjadinya perdarahan. Banyak penderita yang sebagian atau seluruh fungsi mental dan fisiknya kembali normal, tetapi kelainan neurologis kadang tetap ada.

Penderita harus segera dirawat dan tidak boleh melakukan aktivitas berat. Obat pereda nyeri diberikan untuk mengatasi sakit kepala hebat. Kadang dipasang selang drainase di dalam otak untuk mengurangi tekanan. Pembedahan untuk menyumbat atau memperkuat dinding arteri yang lemah, bisa mengurangi resiko perdarahan fatal di kemudian hari. Pembedahan ini sulit dan angka kematiannya sangat tinggi, terutama pada penderita yang mengalami koma atau stupor.
Sebagian besar ahli bedah menganjurkan untuk melakukan pembedahan dalam waktu 3 hari setelah timbulnya gejala. Menunda pembedahan sampai 10 hari atau lebih memang mengurangi resiko pembedahan tetapi meningkatkan kemungkinan terjadinya perdarahan kembali.

Diagnosa

Dugaan adanya perdarahan di dalam kepala dapat dilihat dari tanda dan gejala yang ada. Pemeriksaan radiologi, seperti CT scan atau MRI dapat digunakan untuk melihat perdarahan yang terjadi.

Pengobatan

Penanganan untuk perdarahan di dalam kepala, tergantung dari lokasi, penyebab, dan seberapa berat perdarahan yang terjadi. 

PENCEGAHAN

Beberapa faktor yang dapat dicegah untuk mengurangi risiko terjadinya perdarahan otak meliputi :

  • Atasi tekanan darah tinggi. Sekitar 80% perdarahan otak terjadi pada penderita yang memiliki riwayat darah tinggi. Untuk itu perlu tindakan untuk mengatasi tekanan darah yang tinggi, yaitu melalui diet yang sehat, olahraga, dan obat-obatan
  • Jangan merokok
  • Jangan menggunakan obat-obat terlarang, misalnya kokain, dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan di otak
  • Mengemudi dengan hati-hati, gunakan sabuk pengaman Anda
  • Selalu memakai helm saat mengendarai sepeda motor
  • Jika Anda memiliki aneurisma, tindakan pembedahan dapat diakukan untuk mencegah perdarahan di kemudian hari

Referensi

– Richard Senelick. Brain Hemorrhage. 2012. 

http://www.webmd.com/brain/brain-hemorrhage-bleeding-causes-symptoms-treatments?page=2

Leave a Reply

Your email address will not be published.