Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

by -6 views

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
Sumber gambar : http://www.domehealth.com

Definisi

Penyakit Paru Obstruktif Kronis/PPOK (Chronic Obstructive Pulmonary Disease/COPD) mengarah pada sekelompok penyakit paru yang menyebabkan hambatan pada saluran nafas sehingga membuat penderita menjadi sulit bernafas. Dua penyakit yang paling sering terjadi pada PPOK adalah emfisema dan bronkitis kronis.

PENYEBAB

Penyebab utama PPOK adalah merokok. Namun, pada negara-negara berkembang, PPOK seringkali juga terjadi pada wanita yang terpapar asap akibat pembakaran untuk memasak atau penghangat di rumah. Bekerja di lingkungan yang tercemar oleh uap kimia, debu, atau asap tebal juga bisa meningkatkan risiko terjadinya PPOK.

Adanya paparan bahan-bahan iritan menyebabkan terjadinya peradangan pada alveoli. Jika suatu peradangan berlangsung lama, maka bisa terjadi kerusakan yang menetap. Di dalam alveoli yang meradang akan terkumpul sel-sel darah putih yang akan menghasilkan enzim-enzim (terutama neutrofil elastase), dimana enzim ini akan merusak jaringan penghubung pada dinding alveoli.

Sumber : http://www.healthcentral.com

Merokok juga mengakibatkan kerusakan lebih lanjut pada pertahanan paru-paru dengan cara merusak sel-sel yang memiliki rambut getar (silia) yang normalnya membantu mengeluarkan bahan-bahan berbahaya dari dalam saluran nafas.

Angka kematian karena emfisema dan bronkitis kronis pada perokok lebih tinggi dibandingkan dengan angka kematian akibat PPOK pada bukan perokok. Seiring dengan bertambahnya usia, perokok akan mengalami penurunan fungsi paru-paru yang lebih cepat daripada bukan perokok. Semakin banyak rokok yang dihisap, maka semakin besar kemungkinan terjadinya penurunan fungsi paru-paru.

Selain itu, PPOK juga lebih sering terjadi pada suatu keluarga, sehingga diduga ada faktor yang diturunkan yang membuat seseorang lebih rentan untuk mengalami PPOK.

Pada sekitar 1% kasus, PPOK terjadi akibat adanya gangguan genetik yang menyebabkan seseorang tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit protein alfa-1-antitripsin. Protein ini dihasilkan di hati dan dilepaskan ke dalam aliran darah untuk membantu melindungi paru-paru, yaitu dengan mencegah terjadinya kerusakan alveolus oleh enzim neutrofil elastase.

Penyebab sumbatan pada saluran nafas yang sering terjadi pada PPOK :

– Emfisema merupakan suatu keadaan dimana terjadi kerusakan menetap yang luas pada dinding-dinding alveolus paru. Normalnya, saluran nafas kecil paru (bronkiolus) akan tetap terbuka karena berhubungan dengan dinding alveolus. Pada emfisema, terjadi kerusakan pada dinding alveolus sehingga bronkiolus kehilangan struktur penyangganya dan menjadi kolaps saat penderita mengeluarkan nafas. Hal ini menyebabkan sumbatan pada pernafasan yang menetap.

– Bronkitis kronis merupakan suatu keadaan dimana terjadi peradangan dan penyempitan pada saluran nafas, disertai produksi mukus yang lebih banyak pada paru-paru, sehingga membuat saluran nafas menjadi sempit dan tersumbat. Akibatnya terjadi batuk kronis sebagai upaya untuk membersihkan saluran nafas.

Gejala

Gejala-gejala PPOK biasanya belum muncul sampai terjadi kerusakan paru yang signifikan, dan biasanya akan memberat dengan berjalannya waktu.

Pada bronkitis kronis, gejala utama yang terjadi adalah batuk yang dialami setidaknya selama 3 bulan dalam setahun selama 2 tahun berturut-turut.

Sumber : http://www.buzzle.com

Tanda dan gejala lain yang dapat ditemukan pada PPOK antara lain :

  • sesak nafas, terutama saat melakukan aktivitas fisik
  • mengi (wheezing)
  • dada seperti diikat
  • perlu mengeluarkan dahak di pagi hari karena adanya lendir (mukus) yang berlebihan di paru-paru
  • batuk kronis dengan dahak yang bening, putih, kuning, atau kehijauan
  • bibir atau ujung jari membiru (sianosis)
  • sering terjadi infeksi pernafasan
  • tidak bertenaga
  • penurunan berat badan yang tidak diinginkan

Orang-orang dengan PPOK juga cenderung mengalami episode-episode perburukan, dimana gejala-gejala menjadi semakin berat dan menetap untuk beberapa hari atau lebih lama.

Diagnosa

Jika didapatkan adanya gejala-gejala PPOK dan riwayat paparan terhadap iritan untuk paru, terutama asap rokok, maka bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk membantu mendiagnosa, antara lain :

  • Tes fungsi paru, misalnya spirometri. Alat ini akan mengukur berapa banyak udara yang dapat ditampung oleh paru-paru seseorang, dan seberapa cepat seseorang dapat menghembuskan udara dari paru-paru. Spirometri dapat mendeteksi adanya PPOK bahkan sebelum timbul gejala. Pemeriksaan ini juga bisa digunakan untuk melihat perkembangan penyakit dan memantau keberhasilan terapi.
  • Foto sinar-x dada. Foto sinar-x bisa menunjukan adanya emfisema, yang merupakan salah satu penyebab PPOK. Pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk menyingkirkan gangguan paru lainnya ataupun adanya gagal jantung.
  • CT scan paru, untuk membantu mendeteksi emfisema dan membantu menentukan apakah tindakan bedah bermanfaat untuk mengatasi PPOK yang diderita. CT scan juga dapat digunakan untuk mendeteksi kanker paru, yang lebih sering ditemukan pada orang-orang dengan PPOK ketimbang orang-orang yang merokok tetapi tidak mengalami PPOK.
  • Pemeriksaan gas darah arteri. Pemeriksaan darah ini mengukur seberapa baik paru-paru mengantar oksigen ke dalam darah dan membuang karbon dioksida.

Jika PPOK terjadi pada usia muda, maka perlu dicurigai apakah terdapat kekurangan kadar alfa-1-antitripsin, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui kadar alfa-1-antitripsin dalam darah.

Pengobatan

Penanganan untuk PPOK dilakukan dengan cara :

Berhenti Merokok. Langkah paling penting dalam rencana pengobatan untuk PPOK adalah berhenti merokok. Tindakan ini adalah satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya perburukan pada PPOK. Selain itu, sedapat mungkin hindari agar tidak menjadi perokok pasif dan hindari paparan terhadap bahan iritan lainnnya di udara.

Pemberian obat-obatan untuk mengatasi gejala dan komplikasi PPOK, seperti :

  • Bronkodilator (misalnya Albuterol), biasanya dalam bentuk inhalasi. Obat ini merelaksasi otot-otot pada saluran nafas, sehingga membuat seseorang dapat bernafas dengan lebih lega.
  • Kortikosteroid inhalasi (misalnya Budesonide). Obat ini bisa mengurangi peradangan pada saluran nafas dan membantu mencegah terjadinya perburukan.
  • Obat inhalasi kombinasi, misalnya kombinasi obat bronkodilator dan kortikosteroid.
REJUVENTATING YOUR BRAIN AND COPD TREATMENTS THAT WORK
  • Kortikosteroid yang diminum, untuk mencegah perburukan PPOK lebih lanjut. Namun, obat ini bisa memiliki efek samping yang serius, misalnya pertambahan berat badan, diabetes, osteoporosis, katarak, dan peningkatan risiko terjadinya infeksi.
  • Theophylline. Obat ini membantu memperbaiki pernafasan dan mencegah kekambuhan. Efek samping yang bisa terjadi antara lain : timbulnya rasa mual, detak jantung yang cepat, dan tremor.
  • Antibiotik. Adanya infeksi pada saluran nafas, seperti bronkitis akut, pneumonia, dan influenza, bisa memperberat gejala-gejala PPOK. Antibiotik membantu mengatasi eksaserbasi akut penyakit.
  • Fosfodiesterase-4 inhibitor. Obat ini merelaksasi dan mengurangi peradangan pada saluran nafas.

– Terapi Paru

  • Terapi oksigen. Jika tidak terdapat cukup oksigen di dalam darah, maka bisa diberikan oksigen tambahan. Sebagian orang hanya membutuhkan terapi oksigen untuk waktu yang singkat, misalnya setelah keluar dari rumah sakit. Tetapi untuk orang-orang dengan kadar oksigen dalam darah yang sangat rendah, serta untuk memperpanjang hidup orang-orang dengan PPOK berat, diperlukan terapi oksigen jangka panjang.
  • Progam rehabilitasi paru, biasanya berupa kombinasi dari : edukasi tentang penyakit yang dialami, pelatihan olahraga, nasihat gizi, dan konseling psikologis. Program ini tidak dapat memperbaiki fungsi paru, tetapi bisa membantu orang-orang dengan PPOK dengan cara memperbaiki kemandirian dan kualitas hidup, mengurangi frekuensi dan lama waktu rawat inap di rumah sakit, serta memperbaiki kemampuan untuk beraktivitas.

Mengatasi Eksaserbasi

Meskipun mendapatkan terapi, seseorang dengan PPOK bisa mengalami masa dimana gejala-gejala bertambah berat selama beberapa hari atau minggu. Kondisi ini disebut sebagai eksaserbasi akut, yang berisiko untuk terjadinya gagal nafas jika tidak mendapatkan penanganan yang adekuat.

Eksaserbasi bisa disebabkan oleh adanya infeksi pada saluran nafas, polusi udara, atau pemicu lain untuk terjadinya peradangan. Untuk mengatasinya, mungkin diperlukan obat-obat tambahan (misalnya antibiotik atau steroid), oksigen, atau bahkan rawat inap di rumah sakit.

– Pembedahan

Pembedahan merupakan pilihan terapi untuk beberapa orang dengan emfisema berat yang tidak dapat teratasi dengan baik oleh pemberian obat-obatan saja. Pembedahan yang dilakukan bisa berupa pengangkatan sebagian jaringan paru yang mengalami kerusakan (operasi reduksi volume paru), sehingga jaringan paru yang tersisa dapat bekerja dengan lebih efisien.

Selain itu, bisa juga dilakukan transplantasi paru. Transplantasi bisa memperbaiki kemampuan seseorang untuk bernafas dengan baik dan menjadi lebih aktif. Tetapi, tindakan ini merupakan operasi besar dengan risiko yang signifikan, misalnya adanya reaksi penolakan tubuh terhadap jaringan yang ditransplantasi. Tindakan ini juga mengharuskan seseorang untuk terus mengkonsumsi obat-obat yang menekan imunitas tubuh.

PROGNOSIS

Sekitar 30% penderita PPOK dengan sumbatan yang berat akan meninggal dalam waktu sekitar 1 tahun, dan 95% meninggal dalam waktu 10 tahun. Kematian bisa disebabkan oleh kegagalan pernafasan, pneumonia, pneumotoraks (masuknya udara ke dalam rongga paru), aritmia jantung atau emboli paru (penyumbatan arteri yang menuju ke paru-paru). Penderita PPOK juga beresiko tinggi untuk terjadinya kanker paru.

PENCEGAHAN

Orang-orang dengan PPOK lebih rentan untuk terkena infeksi paru, sehingga sebaiknya dilakukan vaksinasi secara rutin, misalnya vaksinasi terhadap pneumokokus untuk mencegah pneumonia dan vaksin flu.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjaga tubuh agar tetap sehat :

  • hindari segala sesuatu yang dapat mengiritasi paru-paru, misalnya asap, polusi, serta udara yang kering dan dingin.
  • gunakan filter udara di rumah
  • ambil waktu untuk beristirahat sejenak 
  • olahraga secara teratur
  • makan makanan bergizi

Sebagian besar kasus PPOK berhubungan langsung dengan merokok, sehingga cara paling baik untuk mencegah PPOK adalah dengan cara tidak pernah merokok, atau berhenti merokok.

Sumber : http://www.capitalfm.com.my

Paparan dari lingkungan kerja terhadap uap kimia dan debu merupakan faktor risiko PPOK yang lain. Untuk mengatasinya, lakukan berbagai cara untuk melindungi paru-paru dari iritan tersebut, misalnya dengan menggunakan alat proteksi pernafasan.

Referensi

– Mayo Clinic. COPD. 2013. http://www.mayoclinic.com/health/copd/DS00916

– W, Robert A. Chronic Obstructive Pulmonary Disease (Chronic Bronchitis, Emphysema). 2013.

http://www.merckmanuals.com/home/lung_and_airway_disorders/chronic_obstructive_pulmonary_

disease_copd/chronic_obstructive_pulmonary_disease_chronic_bronchitis_emphysema.html

– Web MD. COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease). 2011.

http://www.webmd.com/lung/copd/tc/chronic-obstructive-pulmonary-disease-copd-overview

Leave a Reply

Your email address will not be published.