Osteonekrosis

by -6 views

Osteonekrosis

Osteonekrosis
Osteonekrosis
Sumber gambar : http://www.eorthopod.com

Definisi

Osteonekrosis, atau disebut juga sebagai nekrosis tulang avaskuler, nekrosis aseptik, atau nekrosis tulang iskemik, merupakan suatu keadaan dimana terjadi kematian pada jaringan tulang yang disebabkan oleh gangguan suplai darah.

PENYEBAB

Osteonekrosis disebabkan oleh gangguan aliran darah ke tulang yang terhambat atau berkurang. Kondisi ini bisa dibedakan menjadi :

Osteonekrosis traumatik, merupakan penyebab osteonekrosis yang paling banyak. Trauma yang terjadi pada tulang atau sendi bisa mengurangi aliran darah ke tulang, sehingga bisa menyebabkan terjadinya kematian pada jaringan tulang. Penyebab yang paling sering adalah trauma yang menimbulkan patah tulang dengan fragmen-fragmen tulang yang bergeser (displaced fracture). Fraktur jenis ini biasanya mengenai tulang pinggul pada orang tua. Displaced fracture bisa merusak pembuluh darah yang mengalirkan darah ke bagian ujung atas tulang paha, sehingga menyebabkan kematian pada tulang. Kondisi ini lebih jarang terjadi pada bagian tubuh lainnya.

– Osteonekrosis non-traumatik, merupakan osteonekrosis yang terjadi tanpa adanya trauma atau cedera. Osteonekrosis jenis ini bisa disebabkan oleh penyakit atau kondisi tertentu yang menyebabkan sumbatan pada pembuluh darah kecil yang mengalirkan darah ke bagian -bagian tertentu di tulang. Bagian yang paling sering terkena adalah bagian ujung tulang paha (caput femoris) yang berhubungan ke tulang panggul. Gangguan ini paling sering terjadi pada pria dan orang-orang yang berusia sekitar 30-50 tahun, dan seringkali mengenai kedua panggul atau bahu.

Berbagai penyakit atau kondisi yang bisa menyebabkan terjadinya osteonekrosis non-traumatik antara lain :

  • Menggunakan kortikosteroid dosis tinggi, terutama untuk waktu lama
  • Mengkonsumsi alkohol yang berlebihan
  • Gangguan pembekuan darah, misalnya pada SLE (Systemic Lupus Erythematosus) dengan antibodi antifosfolipid atau kadar trombosit yang tinggi
  • Penyakit sel sabit
  • Penyakit hati
  • Tumor
  • Merokok
  • Penyakit Gauceher
  • Sindroma Cushing
  • Gout
  • Pankreatitis
  • Terapi radiasi
  • Kemoterapi
  • Transplantasi organ
  • Decompression Sickness, yang biasanya terjadi pada penyelam yang terlalu cepat naik ke permukaan
  • Hiperlipidemia (tingginya kadar lemak dalam darah)

Pada sekitar 20% orang dengan osteonekrosis, penyebabnya tidak diketahui, sehingga disebut sebagai osteonekrosis idiopatik.

Osteonekrosis spontan di lutut (SPONK – Spontaneous Osteonecrosis of the Knee) bisa terjadi pada wanita tua (adakalanya pada pria) yang tidak memiliki faktor risiko tertentu. SPONK kemungkinan berhubungan dengan osteoporosis yang menimbulkan sejenis fraktur tertentu yang terjadi akibat tekanan. SPONK terjadi tanpa adanya trauma atau cedera.

Gejala

Pada tahap awal osteonekrosis, banyak orang tidak mengalami gejala. Dengan semakin berkembangnya osteonekrosis, maka bisa terjadi fraktur-fraktur kecil yang semakin banyak, terutama pada tulang-tulang yang menyokong berat tubuh, misalnya tulang panggul. Akibatnya, tulang biasanya akan kollaps dalam waktu beberapa minggu atau bulan setelah aliran darah terhenti. Seringkali nyeri akan mulai muncul saat tulang mulai menjadi kollaps.

Suatu saat, nyeri akan semakin hebat akibat tekanan yang didapat pada tulang yang terkena. Nyeri akan bertambah saat tulang yang terkena mendapat tekanan atau digerakkan, dan umumnya akan membaik saat beristirahat. Untuk itu, penderita biasanya akan berusaha tidak menggerakkan sendi pada daerah yang terkena untuk meminimalkan rasa nyeri. Jika tulang yang terkena adalah tulang paha, maka nyeri akan bertambah hebat saat penderita berdiri atau berjalan, sehingga menyebabkan penderita menjadi pincang. Pada akhirnya, nyeri akan tetap dirasakan saat penderita berbaring.

Pada osteonekrosis pinggul, rasa nyeri biasanya muncul di daerah lipat paha dan bisa meluas ke arah paha atau bokong.

SPONK menyebabkan nyeri yang tiba-tiba muncul di bagian dalam lutut. Sendi seringkali akan membengkak.

Osteonekrosis di bahu seringkali menimbulkan gejala yang lebih sedikit dibanding dengan osteonekrosis yang terjadi di tulang lainnya.

Diagnosa

Karena osteonekrosis seringkali tidak terasa nyeri pada awalnya, maka kemungkinan osteonekrosis belum terdiagnosa pada tahap awal. Osteonekrosis diduga terjadi pada :

  • Orang-orang yang tidak mengalami perbaikan yang memuaskan setelah perbaikan patah tulang
  • Orang-orang yang mengalami nyeri pada pinggul, lutut, atau bahu tanpa diketahui sebabnya, terutama pada orang-orang yang memiliki faktor risiko untuk osteonekrosis

Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membantu mendiagnosa osteonekrosis antara lain :

  • Pemeriksaan foto sinar-X pada daerah yang terkena. Pemeriksaan ini biasanya dapat menunjukkan adanya osteonekrosis, kecuali jika gangguan masih terjadi pada tahap awal.
  • MRI (Magnetic Resonance Imaging), merupakan pemeriksaan yang paling baik untuk mendeteksi osteonekrosis pada tahap awal, dimana belum tampak kelainan pada foto sinar-X biasa.


Foto sinar-X – Kiri : sendi panggul yang sehat;
Kanan : osteonekrosis dengan kollaps caput femoris
Sumber : http://orthoinfo.aaos.org

Pengobatan

Tujuan terapi yang diberikan untuk osteonekrosis adalah untuk mencegah kerusakan tulang lebih lanjut. Terapi yang diberikan tergantung dari keparahan gangguan yang terjadi, yaitu antara lain berupa :

– Obat-obatan

Pada sebagian orang, gejala-gejala osteonekrosis bisa diatasi dengan obat-obat seperti :

  • Obat anti-peradangan non-steroid (NSAID), misalnya ibuprofen atau naproxen, untuk membantu meredakan nyeri dan peradangan yang berhubungan dengan nekrosis avaskular
  • Obat untuk osteoporosis, seperti alendronate, bisa memperlambat perkembangan penyakit
  • Obat kolesterol, untuk menurunkan kadar lemak dalam darah, sehingga bisa membantu mencegah sumbatan pembuluh darah yang seringkali menyebabkan terjadinya nekrosis avaskuler
  • Obat pengencer darah. Jika memiliki gangguan pembekuan darah, maka obat pengencer darah, seperti warfarin, mungkin dapat digunakan untuk mencegah terbentuknya bekuan darah yang bisa menyumbat pembuluh darah

– Terapi

Pada nekrosis avaskuler tahap awal, bisa dianjurkan untuk :

  • Istirahat. Aktivitas fisik harus dibatasi untuk mengurangi beban dan tekanan yang didapat oleh tulang yang terkena, sehingga bisa memperlambat kerusakan yang terjadi. Pada osteonekrosis yang terjadi di pinggul atau lutut, mungkin diperlukan alat bantu, seperti kruk, untuk berjalan, sehingga mengurangi beban pada sendi yang terkena selama beberapa bulan.
  • Olahraga, untuk membantu menjaga dan memperbaiki pergerakan sendi. Olahraga harus disesuaikan dengan kondisi yang dialami.
  • Stimulasi elektrik, diberikan untuk merangsang pembentukan tulang-tulang yang baru, sehinga menggantikan daerah yang rusak akibat nekrosis avaskuler.

– Pembedahan dan Tindakan Lainnya

Karena sebagian besar penderita tidak mengalami gejala sampai penyakit mencapai tahap lanjut, maka mungkin perlu dipertimbangkan untuk tindakan pembedahan pada kasus-kasus tertentu yang berat, misalnya :

  • Dekompresi bagian dalam tulang (Core decompression). Sebagian lapisan dalam tulang diambil melalui pembedahan untuk mengurangi tekanan di dalam tulang, sehingga seringkali dapat membantu meredakan nyeri dan menstimulasi pembentukan jaringan tulang dan pembuluh darah yang baru.
  • Transplantasi tulang (Bone graft). Tindakan ini digunakan untuk membantu memperkuat daerah tulang yang mengalami kerusakan akibat nekrosis avaskuler dan menstimulasi pembentukan tulang yang baru. Graft tulang diambil dari tulang yang sehat di bagian tubuh lainnya.
  • Osteotomi. Tindakan ini terutama dilakukan pada bagian panggul, yaitu dengan membuang bagian tepi tulang di atas atau dibawah sendi yang menopang berat badan untuk membantu memindahkan berat dari tulang yang mengalami gangguan.
  • Pergantian sendi. Jika tulang yang terkena telah menyebabkan kollaps sendi yang hebat dan osteoartritis, serta tidak dapat diatasi dengan terapi lainnya, maka diperlukan tindakan untuk mengganti bagian sendi yang rusak dengan sendi buatan.

Joint Replacement

Sumber : http://healthcare.utah.edu

PENCEGAHAN

Upaya pencegahan dilakukan dengan cara mengatasi penyakit atau kondisi yang menjadi faktor risiko terjadinya osteonekrosis, misalnya :

  • Untuk meminimalkan risiko terjadinya osteonekrosis yang disebabkan oleh penggunaan kortikosteroid, maka obat-obat ini hanya digunakan jika benar-benar diperlukan dan harus dengan petunjuk dokter.
  • Untuk mencegah terjadinya osteonekrosis akibat decompression sickness, maka seseorang harus mengikuti aturan menyelam yang benar atau saat bekerja pada lingkungan yang bertekanan
  • Hindari konsumsi alkohol yang berlebihan
  • Tidak merokok
  • Jaga kadar kolesterol tetap rendah

Referensi

– Mayo Clinic. Avascular Necrosis. 2012.

http://www.mayoclinic.com/health/avascular-necrosis/DS00650

– S, Marvin E. Osteonecrosis. Merck Manual Home Health Handbook. 2012.

http://www.merckmanuals.com/home/bone_joint_and_muscle_disorders/

osteonecrosis/osteonecrosis.html

– S, William C. Aseptic Necrosis (Avascular Necrosis or Osteonecrosis). 2011.

http://www.medicinenet.com/aseptic_necrosis/article.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published.