Mengompol

by -4 views

Mengompol

Mengompol
Mengompol
Sumber gambar : http://www.buzzle.com

Definisi

Mengompol, atau disebut juga enuresis, merupakan pelepasan air kemih secara tidak sadar pada anak yang telah bisa buang air kecil di toilet. Mengompol bisa terjadi pada siang hari atau malam hari, atau bahkan keduanya. Biasanya, lebih dari 90% anak tidak mengompol lagi saat siang hari setelah anak berusia 5 tahun. Kemampuan untuk tidak mengompol pada malam hari mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama. Mengompol saat malam hari masih terjadi pada sekitar 30% anak saat usia 4 tahun, sekitar 10% pada usia 7 tahun, sekitar 3% pada usia 12 tahun, dan sekitar 1% pada usia 18 tahun.

PENYEBAB

Pola mengompol pada anak bisa membantu menentukan kemungkinan penyebabnya. Jika anak tidak pernah bisa menahan kencing pada siang hari, maka kemungkinan penyebabnya adalah kelainan bawaan, yaitu adanya kelainan anatomi, atau perilaku tertentu yang menyebabkan anak mengompol.

Penyebab anak mengompol bervariasi, tergantung pada kapan anak mengompol (siang hari atau terutama malam hari).

Jika anak suka mengompol pada malam hari (enuresis nokturnal), sebagian besar tidak disebabkan oleh kelainan medis, tetapi akibat kombinasi dari berbagai faktor, antara lain :

  • Keterlambatan perkembangan
  • Toilet training yang belum sempurna (anak diajarkan untuk bisa buang air kecil pada tempatnya)
  • Kandung kemih berkontraksi sebelum benar-benar penuh
  • Minum terlalu banyak sebelum tidur
  • Masalah untuk bangun tidur (misalnya pada anak yang tidur sangat nyenyak)
  • Riwayat keluarga. Jika salah satu orang tua pernah mengalami gangguan yang sama (mengompol di malam hari), maka ada sekitar 30% kemungkinan gangguan tersebut diturunkan pada anak. Kemungkinan ini meningkat hingga 70% jika kedua orang tua pernah mengalaminya.

Pada anak-anak yang mengompol di siang hari (enuresis diurnal), penyebab yang sering adalah :

  • Kandung kemih mengalami iritasi karena infeksi saluran kemih atau karena ada yang menekan saluran kemih (misalnya rektum yang penuh akibat sembelit)
  • Kandung kemih yang terlalu aktif
  • Reflux uretrovaginal, dapat terjadi pada anak perempuan yang buang air kecil dengan posisi yang tidak benar atau memiliki lipatan kulit tambahan. Air kemih dapat berbalik ke atas ke dalam vagina dan kemudian mengalir keluar saat anak berdiri.
  • Kelainan anatomis, misalnya lubang saluran kemih yang berada pada letak yang salah atau adanya kelainan bawaan pada saluran kemih yang menyebabkan sumbatan.
  • Kelemahan pada sfinkter saluran kemih, yang mengatur keluarnya air kemih (misalnya akibat kelainan pada saraf tulang belakang).

Pada kedua tipe di atas, adanya stress, gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas, atau infeksi saluran kemih dapat meningkatkan risiko terjadinya mengompol pada anak.

Selain itu, ada anak yang sejak awal selalu mengompol pada malam hari (enuresis primer). Hal ini biasanya terjadi karena tubuh membuat air kemih yang lebih banyak saat malam hari dibandingkan dengan yang dapat ditampung oleh kandung kemih. Namun, anak tidak bangun saat kandung kemih telah penuh, sehingga anak menjadi mengompol. Hal ini terjadi karena otak anak belum belajar bagaimana merespon sinyal bahwa kandung kemih telah penuh.

Anak-anak yang sudah tidak pernah mengompol saat malam hari setidaknya selama 6 bulan, tetapi mulai mengompol kembali disebut sebagai enuresis sekunder. Ada banyak penyebab anak mengompol kembali, misalnya karena infeksi saluran kemih, tekanan pada kandung kemih (contohnya akibat rektum yang penuh karena sembelit), gangguan metabolik (contohnya diabetes), gangguan pada medula spinalis, atau perubahan emosi.

Gejala

Gejala yang muncul adalah adanya mengompol (anak buang air kecil tanpa disadari) saat siang hari atau saat tidur di malam hari.

Diagnosa

Pemeriksaan riwayat medis dan pemeriksaan fisik lengkap dilakukan untuk mengevaluasi anak dengan enuresis primer dan sekunder. Anak-anak yang mengompol perlu diketahui bagaimana pola berkemih anak, apakah anak bisa berkemih dengan normal dan kapan terjadinya mengompol. Selain, itu perlu diketahui juga seberapa banyak asupan cairan dan makanan pada anak sebelum tidur, dan waktu tidur.

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab fisik. Pemeriksaan contoh air seni dan kultur dapat dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan terjadinya infeksi atau diabetes. Pemeriksaan laboratoris dan pemeriksaan pencitraan lebih lanjut juga dapat dilakukan jika diperlukan.

Pengobatan

Pengobatan tergantung dari penyebab anak menjadi sering mengompol. Misalnya, adanya infeksi biasanya diobati dengan pemberian antibiotik. Anak-anak dengan cacat bawaan atau kelainan anatomik mungkin membutuhkan pembedahan. Penanganan non-spesifik dapat dilakukan tergantung dari kapan anak mengompol (di malam hari saja atau saat siang hari).

Mengompol Saat Malam Hari

Untuk anak yang berumur kurang dari 6 tahun, biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan. Tindakan yang dilakukan hanya menunggu sampai gejala hilang dengan sendirinya. Tetapi jika hal ini tidak terjadi, maka bisa dilakukan evaluasi lebih lanjut dan pengobatan.

Konsultasi dan terapi perilaku dapat dilakukan untuk membantu mengatasi masalah mengompol pada anak. Anak dan orang tua perlu diberi penjelasan bahwa mengompol pada malam hari memang agak sering terjadi, tetapi gangguan ini dapat diperbaiki dan tidak perlu menyalahkan siapapun.

Terapi perilaku dapat dilakukan untuk anak maupun orang tua. Terapi perilaku untuk anak dapat berupa :

  • menahan diri untuk tidak minum 2-3 jam sebelum tidur
  • buang air kecil sebelum tidur
  • mengganti pakaian dan sepreinya sendiri jika ia mengompol
  • menandai pada kalender kapan ia mengompol maupun tidak

Terapi perilaku untuk orang tua dapat berupa :

  • Tidak menghukum atau memarahi anak karena mengompol. Memberi hukuman pada anak karena mengompol tidak akan membantu. Tindakan ini hanya akan mengacaukan terapi dan membuat anak merasa tidak berharga.
  • Memberi pujian atau hadiah jika anak tidak mengompol, misalnya memberikan tanda bintang pada kalender atau hadiah lainnya, tergantung dari usia anak.

Ada cara yang efektif untuk mengatasi masalah mengompol di malam hari yaitu dengan menggunakan metode alaram. Alaram akan berbunyi jika beberapa tetes air kemih telah keluar. Pada beberapa minggu pertama, anak akan terbangun setelah mengompol. Beberapa minggu berikutnya, anak bisa terbangun saat baru sedikit mengeluarkan air kemih, sehingga tempat tidurnya belum terlalu basah. Lama-lama anak akan terbangun karena ingin buang air kecil dan tempat tidurnya akan tetap kering. Metode alaram bisa dilepas setelah anak tidak mengompol setidaknya selama 3 minggu.

Meskipun membutuhkan waktu yang lama (bisa sampai sekitar 4 bulan hingga gejala benar-benar menghilang), metode alaram memiliki angka keberhasilan yang tinggi, yaitu sampai 70% saat anak termotivasi untuk berhenti mengompol. Hanya sekitar 10-15% anak yang mengompol kembali setelah metode ini dihentikan.

Selain terapi di atas, ada juga terapi dengan obat-obatan. Namun, pemberian obat saat ini lebih jarang dilakukan karena ada kemungkinan menimbulkan efek samping. Metode alaram juga terbukti lebih efektif digunakan untuk mengatasi masalah mengompol pada malam hari. Namun, jika terapi lain tidak berhasil dan jika orang tua menginginkan, maka bisa diberikan obat-obatan untuk membantu mengatasinya.

Obat-obat seperti desmopressin dan imipramine dapat menurunkan frekuensi mengompol saat tidur. Imipramine adalah obat anti-depresan yang dapat melonggarkan kandung kemih dan memperkuat sfingter yang menghambat aliran air kemih. Obat ini memiliki kerja yang cepat. Setelah diberikan selama 1 bulan, biasanya anak akan berhenti mengompol. Dosis obat kemudian bisa diturunkan dan perlahan-lahan dihentikan. Namun, saat obat dihentikan, sebagian besar anak akan kembali mengompol. Orang tua dan anak harus diperingatkan akan kemungkinan ini, sehingga anak tidak menjadi frustasi jika ia mengompol kembali.

Imipramine dapat menimbulkan efek samping berupa penurunan jumlah sel darah putih. Untuk itu, saat pengobatan berlangsung sebaiknya dilakukan pemeriksaan darah setiap 2-4 minggu untuk memastikan bahwa jumlah sel darah putih tidak berkurang.

Obat pilihan lainnya dalah obat semprot hidung desmopressin. Obat ini dapat mengurangi pengeluaran air kemih. Efek samping obat lebih sedikit, tetapi harganya lebih mahal.

Kadang mengompol saat tidur berhenti kemudian timbul lagi. Kekambuhan ini biasanya terjadi karena anak mengalami peristiwa yang menegangkan atau karena anak mengalami kelainan fisik (misalnya infeksi saluran kemih).

Mengompol Saat Siang Hari

Beberapa penanganan umum yang dapat dilakukan antara lain :

  • mencoba melakukan latihan menahan kencing untuk memperkuat sfingter saluran kencing
  • secara bertahap memperpanjang waktu antara buang air kecil jika anak tampaknya memiliki otot kandung kemih yang lemah atau gangguan fungsi berkemih
  • atur jadwal untuk buang air kecil
  • ingatkan anak untuk berkemih, misalnya dengan memasang alaram
  • gunakan metode yang dapat menghalangi untuk menahan air kemih di vagina, misalnya dengan cara buang air kecil dengan duduk menghadap ke arah belakang di toilet atau dengan membuka kedua kaki lebar saat buang air kecil

Latihan untuk menahan hasrat buang air kecil dapat dilakukan dengan cara mengajarkan anak untuk segera pergi ke toilet saat mereka merasa ingin kencing. Tetapi, saat di toilet, anak diminta untuk menahan air kemih selama mungkin yang ia biasa. Saat anak tidak lagi dapat menahannya, maka mereka dapat mulai berkemih, tetapi kemudian berhenti dan mulai berkemih kembali setiap beberapa detik. Latihan ini akan memperkuat sfingter saluran kemih dan juga memberikan kepercayaan diri pada anak bahwa mereka bisa buang air kecil di kamar mandi sebelum sempat mengompol.

Obat-obat seperti oxybutynin dan tolterodine dapat membantu jika gangguan yang ada berupa spasme kandung kemih.

Referensi

– F, Teodoro E. Urinary Incontinence in Children (Enuresis). Merck Manual. 2012.

http://www.merckmanuals.com/home/childrens_health_issues/incontinence_in_children

/urinary_incontinence_in_children.html 

– K, Neil K. Bedwetting. Medline Plus. 2011.

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001556.htm

– P, David. Bedwetting (Nocturnal Enuresis). Medicine Net. 2010.

http://www.medicinenet.com/bedwetting/article.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published.