Mata Merah Karena Alergi (Konjungtivitis Alergika)

by -4 views

Mata Merah Karena Alergi (Konjungtivitis Alergika)

Mata Merah Karena Alergi (Konjungtivitis Alergika)
Mata Merah Karena Alergi (Konjungtivitis Alergika)
Sumber gambar : http://allergydiagnosis.in

Definisi

Konjungtivitis Alergika adalah suatu peradangan pada konjungtiva (selaput yang menutupi kelopak mata bagian dalam dan permukaan luar mata) karena reaksi alergi.

Pada sebagian besar penderita, konjungtivitis alergika merupakan bagian dari sindroma alergi yang lebih luas, misalnya rinitis alergika musiman. Tetapi konjungtivitis alergika bisa juga terjadi pada seseorang yang mengalami kontak langsung dengan zat-zat di dalam udara, seperti serbuk sari, spora jamur, debu dan bulu binatang.

PENYEBAB

Konjungtiva memiliki sejumlah sel yang berasal dari sistem imunitas tubuh (sel mast). Sel-sel ini mengeluarkan zat kimia tertentu sebagai respon terhadap berbagai stimulus (alergen) yang menyebabkan peradangan pada mata.

Allergen yang menyebabkan konjungtivitis alergika bisa terdapat di udara, misalnya serbuk sari atau asap. Atau terdapat pada tangan dan masuk mengenai mata saat sedang mengusap mata. Ketika mata terpapar oleh suatu alergen secara berulang, maka tubuh akan bereaksi dan menghasilkan antibodi. Ketika berikutnya mata terpapar kembali oleh alergen-alergen ini, maka akan terjadi reaksi alergi pada mata yang disebut konjungtivitis alergika. Pada alergi, sistem kekebalan tubuh melepaskan antibodi dan zat-zat (termasuk histamin) sebagai respon terhadap paparan alergen. Kecenderungan untuk terjadinya alergi pada seseorang bersifat diturunkan (inherited).

Konjungtivitis alergika dapat dibagi menjadi konjungtivitis alergika musiman (seasonal) dan konjungtivitis alergika tahunan (perennial). Kedua konjungtivitis alergika ini merupakan reaksi alergi yang paling sering terjadi pada mata. Konjungtivitis alergika musiman seringkali disebabkan oleh spora pohon atau serbuk sari dari rerumputan, sehingga biasanya terjadi pada musim semi dan awal musim panas. Serbuk sari dari rumput liar biasanya menyebabkan konjungtivitis alergi pada musim panas dan awal musim gugur. Konjungtivitis alergika tahunan (perennial) terjadi sepanjang tahun, dan seringkali disebabkan oleh paparan tungau dan bulu binatang.

Bentuk konjungtivitis alergika yang lebih berat adalah keratokonjungtivitis vernal. Stimulan (alergen) penyebabnya tidak diketahui. Keadaan ini paling sering terjadi pada anak laki-laki, terutama pada usia 5-20 tahun, yang juga memiliki asma, eksim, atau alergi musiman. Keratokonjungtivitis biasanya kambuh setiap musim semi dan mereda pada musim gugur dan musim dingin. Keratokonjungtivitis biasanya tidak kambuh lagi setelah anak memasuki masa dewasa muda.

Gejala

Reaksi alergi menyebabkan pelepasan histamin dan pelebaran pembuluh darah di dalam konjungtiva. Bagian putih mata menjadi merah dan bengkak, mata terasa gatal, panas, dan berair. Selain itu juga dapat ditemukan kelopak mata yang membengkak dan merah. Konjungtivitis alergika biasanya terjadi pada kedua mata, tetapi adakalanya mata yang satu dapat lebih terkena dibandingkan mata yang lain.

Pada konjungtivitis alergika musiman dan tahunan, mata menjadi sangat berair. Banyak penderita juga mengalami rhinitis. Pada keratokonjungtivitis vernal, sekret mata tebal dan lebih kental. Tidak seperti konjungtivitis alergika lainnya, keratojonjungtivitis vernal seringkali mengenai kornea dan dapat terbentuk ulkus (luka) yang nyeri pada kornea, sehingga menyebabkan menurunnya penglihatan yang menetap.

Diagnosa

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada cairan hidung ditemukan banyak eosinofil (salah satu jenis sel darah putih). Tes kulit terhadap alergen yang diduga menjadi penyebab terjadinya reaksi alergi menunjukkan hasil positif.

Pengobatan

Obat tetes mata yang mengandung antihistamin, misalnya ketotifen, dapat digunakan untuk menangani kasus-kasus yang ringan. Antihistamin biasanya dikombinasikan dengan vasokonstriktor untuk mengurangi kemerahan pada mata. Tetapi antihistamin maupun kandungan lain di dalam larutan tetes mata sendiri terkadang bisa memperburuk reaksi alergi yang terjadi, sehingga biasanya lebih disukai pemberian antihistamin per-oral (diminum).

Kromolin (juga tersedia dalam bentuk tetes mata) terutama digunakan sebagai pencegahan jika penderita akan mengadakan kontak dengan suatu alergen.
Tetes mata yang mengandung kortikosteroid bisa digunakan pada kasus yang berat, tetapi pemakaiannya harus hati-hati dan sesuai dengan petunjuk dokter, karena bisa menyebabkan komplikasi (misalnya glaukoma, katarak, atau risiko untuk terkena infeksi yang lain).

Jika pengobatan lainnya tidak memberikan hasil yang memuaskan, maka dianjurkan untuk menjalani immunoterapi alergen.

PENCEGAHAN

Mencuci mata dengan cairan pencuci mata bisa membantu mengurangi iritasi. Penderita sebaiknya menghindari bahan yang dapat menyebabkan reaksi alergi. Selama terjadi konjungtivitis, sebaiknya lensa kontak tidak dipasang.

Referensi

– North Texas Allergy and Asthma Associates. Allergic Conjungtivitis.

http://www.texasallergyonline.com/education-center/information-on-allergy-disorders/ntaaa.php?ntaaa=369204

– R, Melvin. Allergic Conjunctivitis. Merck Manual Home Health Handbook. 2012.

http://www.merckmanuals.com/home/eye_disorders/conjunctival_and_scleral_disorders/

allergic_conjunctivitis.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.