Masalah Sperma

by -4 views

Masalah Sperma

Masalah Sperma
Masalah Sperma
Sumber gambar : http://www.umm.edu/

Definisi

Untuk menjadi subur, seorang pria harus bisa untuk mengeluarkan sperma normal dalam jumlah yang cukup ke vagina wanita, dan sperma harus bisa membuahi sel telur. Kondisi yang bertentangan dengan proses ini bisa membuat seorang pria kurang subur.

PENYEBAB

Kondisi yang meningkatkan suhu pada testis (dimana sperma dihasilkan) bisa mengurangi jumlah sperma dalam jumlah besar dan gerakan sperma yang kuat bisa meningkatkan jumlah sperma yang tidak normal. Peningkatan suhu pada testis dapat berhubungan dengan panas tubuh yang berlebihan, adanya demam jangka panjang, testis yang tidak turun (kelainan yang didapat sejak lahir), dan adanya varicose pada pembuluh darah testis (varicocele).

Gangguan hormon tertentu atau genetik bisa menghalangi produksi sperma. Gangguan hormon termasuk hyperprolactinemia, hypothyroidism, hypogonadism, dan gangguan pada kelenjar adrenalin (yang menghasilkan hormon testosteron dan hormon lain) atau kelenjar pituitari (yang mengendalikan produksi testosteron). Gangguan genetik meliputi kelainan pada kromosom seks, yang terjadi pada sindrom Klinefelter.

Penyebab lain pada pengurangan produksi sperma termasuk penyakit gondok yang dapat mempengaruhi testis (orchitis), luka pada testis, adanya racun lingkungan dan obat-obatan. Obat-obatan yang dapat mempengaruhi produksi sperma antara lain testosteron, aspirin ketika digunakan untuk jangka waktu lama, chlorambucil, cimetidine, colchicines, kortikosteroid (seperti prednison), cotrimoxazole, cyclophosphamide, obat malaria, estrogen yang digunakan untuk mengobati kanker prostat, mariyuana, medroxyprogesteron, methotrexate, penghambat monoamine oxidase (MAOIs-salah satu jenis antidepresan), nikotin, nitrofurantoin, opoid (narkotika), spironolactone, dan sulfasalazine. Penggunaan steroid anabolik juga bisa mempengaruhi kadar hormon dan dengan demikian menghalangi produksi sperma. Mengkonsumsi alkohol secara berlebihan bisa mengurangi produksi sperma.

Beberapa gangguan dapat menyebabkan tidak adanya sperma di dalam semen (azoospermia). Gangguan ini antara lain gangguan pada testis, penyumbatan atau gangguan pada vasa deferentia, kehilangan seminal vesicles, dan penyumbatan pada kedua kantung ejaculator.

Kadangkala semen yang mengandung sperma bergerak ke arah yang salah, yaitu berbalik ke dalam kandung kemih dan bukannya keluar melalui penis. Gangguan ini disebut ejakulasi retrograde. Ejakulasi retrograde lebih sering terjadi pada pria yang mempunyai diabetes atau mereka dengan riwayat operasi pada panggul, seperti operasi pengangkatan prostat. Ejakulasi retrograde bisa menyebabkan kemandulan karena sperma tidak dapat keluar melalui penis.

DIAGNOSA

Riwayat medis dan pemeriksaan fisik diperlukan untuk membantu mengidentifikasi penyebab. Dokter akan memeriksa apakah terdapat kelainan fisik, seperti testis yang tidak turun, kelainan hormon atau kelainan genetik yang bisa menyebabkan kemandulan. Kadar hormon (termasuk testosteron) dapat diukur dalam darah.

Pemeriksaan cairan semen perlu dilakukan. Pemeriksaan semen merupakan pemeriksaan yang penting dilakukan untuk menentukan kesuburan pada pria. Untuk melakukan prosedur ini, penderita diminta untuk tidak ejakulasi selama 2 sampai 3 hari sebelum analisa. Kemudian dia diminta untuk ejakulasi, biasanya dengan masturbasi, dan menampung cairan semen ke dalam gelas penampung bening. Prosedur ini dianjurkan dilakukan di dalam laboratorium. Untuk pria yang mengalami kesulitan untuk menghasilkan semen dengan cara ini, terdapat kondom khusus yang tidak mempunyai pelumas atau racun kimia untuk sperma yang bisa digunakan untuk menampung semen selama hubungan seks. Analisa sperma didasarkan pada dua atau tiga contoh cairan semen yang diperoleh setidaknya dalam jarak 2 minggu. Hasil pemeriksaan akan lebih akurat dibandingkan analisa yang hanya didasarkan pada contoh tunggal.

Sumber : http://www.scripps.org

Pada pemeriksaan akan diukur volume cairan semen yang dihasilkan. Apakah warna dan kekentalan semen adalah normal. Kemudian sperma akan diteliti di bawah mikroskop untuk melihat bentuk, ukuran, gerakan, dan jumlahnya.

Sperm_morph
Sumber : http://infertilityanswers.typepad.com

Jika hasil pemeriksaan semen tidak normal, analisa kemungkinan diulangi lagi karena contoh semen dari pria yang sama secara normal sangat bervariasi. Jika pada pemeriksaan berikutnya semen masih terlihat tidak normal, dokter berusaha untuk mengidentifikasi penyebabnya. Jumlah sperma yang sedikit bisa mengindikasi pendeknya waktu sejak ejakulasi sebelumnya atau hanya beberapa semen disimpan dalam tempat penampungan. Jumlah sperma yang sedikit tidak berarti bahwa tidak subur, dan jumlah sperma normal tidak menjamin kesuburan.

Tes untuk melihat fungsi dan kualitas sperma bisa dilakukan, antara lain tes untuk mendeteksi antibodi pada sperma dan tes untuk memastikan apakah selaput sperma tetap utuh. 

PENGOBATAN

Clomiphene adalah obat yang biasa digunakan untuk memicu (induce) ovulasi pada wanita. Clomiphene dapat digunakan dalam usaha meningkatkan jumlah sperma pada pria. Meskipun begitu, clomiphene tidak meningkatkan kualitas sperma yang dihasilkan atau mengurangi jumlah sperma yang tidak normal. Clomiphene juga tidak terbukti dapat meningkatkan kesuburan.

Untuk pria yang memiliki jumlah sperma normal, pembuahan buatan bisa dilakukan untuk meningkatkan kesempatan pasangan mereka untuk hamil. Teknik ini menggunakan bagian pertama dari semen yang diejakulasi, sperma yang sangat kental. Teknik yang memilih hanya sperma aktif (sperma yang dicuci) sedikit lebih berhasil. Pada pembuahan in vitro, sel telur dapat disuntikkan sperma intracytoplasmic (suntikan sperma tunggal ke dalam sel telur tunggal), dan gamete intrafallopian tube transfer (GIFT) yang lebih kompleks dan mahal. 

Untuk pria yang tidak menghasilkan sperma, pemakaian sperma donor mungkin dapat dipertimbangkan, yaitu pembuahan dilakukan dengan menyuntikkan sperma dari pria lain (seorang donor) pada sel telur pasangannya. Namun mengingat bahaya dari penyakit menular, termasuk infeksi HIV, sampel semen segar dari donor tidak boleh digunakan. Sperma yang digunakan sebaiknya diperolah dari sperma yang telah dibekukan dari bank sperma bersertifikat, yang telah menguji donor untuk penyakit kelamin menular.

Gangguan sperma karena varicocele bisa diobati dengan cara mengatasi varicocelenya, yaitu dengan operasi. Kadangkala tindakan ini bisa memperbaiki kesuburan.

Gejala

Diagnosa

Pengobatan

Referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published.